"Ini bentuk yang tidak adil, karena semua wilayah mempunyai potensinya masing-masing," ujar Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo.
Sahrul menyampaikan hal tersebut dalam seminar Nasional Bank Indonesia yang bertajuk "Potensi Pengembangan Ekonomi Dan Tantangan Pembangunan Infrastruktur di Kawasan Timur Indonesia" di Kantor Koordinator Bank Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (28/06/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal menurut Syahrul banyak wilayah yang memiliki potensi menarik investasi seperti kawasan Indonesia Timur di luar kedua hal tersebut.
Â
"Saya sudah mengeluh ke presiden, jangan dianggap kawasan timur seperti Sulsel tidak bisa sama," ungkap Syahril.
Selama ini, lanjut Syahrul para pemodal asing dan lokal cenderung tidak tertarik membenamkan investasinya di kawasan Indonesia Timur.
"Memang, hal itu dikarenakan tidak adanya dukungan infrastruktur yang memadai. Maka dari itu, Sulsel mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif agar pembangunan infrastruktur bisa berkembang dengan pesat. Kalau tidak, bagaimana bisa dikejar," tegasnya.
Â
Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang sesuai target pemerintah di 7,7% di 2010, Syahrul mengatakan Sulsel membutuhkan investasi Rp 93 triliun dalam 3 tahun terakhir.
"Tahun lalu sudah Rp 68 triliun, saat ini angka terakhir sudah Rp 82 triliun jadi kurang Rp 11 triliun," ucapnya.
Bank Indonesia (BI) sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan timur yakni Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua) bisa mencapai 5,97% di akhir triwulan II-2010.
Â
"Pertumbuhan ekonomi Sulampua pada akhir triwulan II bisa meningkat mencapai 5,97% year on year. Jika dilihat triwulan I hanya mencapai 4,87%," ujar Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Makassar Antonius Siahaan.
Ia mengatakan, potensi ekonomi yang masih bisa digali sangat besar di kawasan timur. Sebagaimana diketahui, sambung Antonius, penghasil utama kawasan timur yakni sebagai penghasil utama kakao yang di ekspor ke luar negeri.
"Dari sektor komoditas, bank sentral melihat kawasan timur identik dengan lumbung pangan. dimana komoditas seperti beras, jagung dan kelapa sawit sangat melimpah," tambahnya.
Selain itu, bank sentral mencatat tingkat inflasi di Sulampua masih sangat terkendali dimana pada Mei 2010 tingkat inflasi mencapai 4,28%.
"Jika dilihat pertumbuhan kredit industri perbankan, kawasan Indonesia timur sampai dengan Mei 2010 juga tumbuh 16,9% year on year," paparnya.
(dru/qom)











































