"Kecelakaan ini paling banyak terjadi di Jakarta, karena Jakarta merupakan tempat yang pertama melakukan program konversi. Jika tidak dilakukan pencegahan maka dikhawatirkan daerah-daerah lain juga akan terjadi," ujar Kooordinator Komisi III Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN ) Gunarto, di Gedung Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (01/06/2010).
Gunarto mengatakan, setelah Jakarta, daerah lain yang akan melakukan program konversi tersebut adalah Jawa Tengah dan Jawa timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal tahun sebelumnya, jumlah kasus kecelakaan gas berjumlah 30 dalam setahun, dengan jumlah korban tewas 12 orang, dan luka-luka 48 orang. Tahun 2008, jumlah kasus kecelakaan tercatat sebanyak 27, dengan korban tewas dua orang dan luka-luka 35 orang. Tahun 2007, saat program konversi mulai dilakukan, terjadi lima kasus kecelakaan, dengan empat korban luka.
Gunarto menambahkan selain karena tidak terpenuhinya standar produksi produk tabung, kompor, dan aksesorisnya, penyebab utama kecelakaan adalah perilaku manusia dan lingkungan di sekitar tabung itu sendiri saat digunakan.
"Masyarakat ada yang lakukan penggantian selang karet dengan selang air, ganti regulator dengan yang ada puterannya untuk kepraktisan, karena mereka tidak tahu itu bahayanya dan benarnya seperti apa," katanya.
Sebelumnya, Deputi Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamian Hanung Budya mengatakan Pertamina tidak akan menarik selang tabung gas dari pasar namun akan mengganti selang yang tidak sesuai ketentuan standar nasional Indonesia (SNI) yang sudah terlanjur beredar di masyarakat.
"Konsumen akan diberi kesempatan untuk membeli selang yang baru dan sesua SNI dengan harga khusus sesuai harga dari pabrik," katanya.
(dru/qom)










































