Sebanyak dua perusahaan minyak terbesar asal Amerika Serikat (AS), ExxonMobil dan Chevron melaporkan keuntungan sangat besar berkat lonjakan harga minyak global yang dipicu oleh perang AS-Iran di Timur Tengah.
Dalam laporan keuangannya Exxon mencatatkan keuntungan US$ 14,5 miliar atau Rp 259,5 triliun sepanjang kuartal II-2026. Jika dirinci, raksasa migas ini menghasilkan sekitar US$ 160 juta atau Rp 2,8 triliun per hari pada periode tersebut.
Angka ini dua kali lipat lebih tinggi daripada pendapatan tahun sebelumnya (year-on-year). Pendapatan sebesar ini juga merupakan perolehan tertinggi sejak 2022 lalu selama awal perang Rusia-Ukraina, saat harga minyak dunia juga sedang tinggi-tingginya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Raksasa Minyak AS Raup Untung Besar-besaran, Kantongi Rp 2,8 T/Hari Foto: BBC |
Sementara itu, Chevron selaku perusahaan minyak terbesar kedua di AS membukukan laba US$ 12,1 miliar atau Rp 216,5 triliun. Jumlah ini meningkat empat kali lipat lebih dibandingkan pendapatannya pada kuartal II tahun lalu yang sebesar US$ 2,5 miliar atau Rp 44,7 triliun.
"Perusahaan-perusahaan ini mencetak uang karena harga minyak melonjak di seluruh dunia," kata presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow dikutip dari CNN, Sabtu (8/8/2026).
Sebagaimana diketahui, harga minyak mentah dunia telah melonjak lebih dari 40% sepanjang tahun ini imbas keterbatasan pasokan dari Timur Tengah karena perang. Sementara Exxon dan Chevron memiliki kilang minyak sendiri yang mendorong mereka meraup keuntungan lebih besar.
Lipow memperkirakan dunia telah kehilangan sekitar 6-7 juta barel kapasitas penyulingan per hari, sehingga kilang-kilang yang ada menjadi semakin diuntungkan.
"Exxon dan Chevron memiliki kilang yang beroperasi dengan sangat baik. Kami berada pada margin penyulingan tertinggi untuk bensin, bahan bakar jet, dan diesel," kata Lipow.
Hal ini terlihat dari bisnis hilir Chevron yang mencakup kilang-kilang minyaknya, berbalik dari kerugian sebesar US$ 817 juta (Rp 14,6 triliun) tahun lalu menjadi keuntungan sebesar US$ 4,9 miliar atau Rp 87,6 triliun.
Perusahaan minyak besar lainnya, Shell, mengungkapkan dalam laporan keuangan mereka bahwa perusahaan menghasilkan hampir US$ 10 miliar atau Rp 178,97 triliun pada kuartal lalu. Angka ini lebih dari dua kali lipat keuntungan tahun sebelumnya, dan bahkan itu adalah laba per kuartal tertinggi kedua dalam sejarah Shell.
(igo/ara)










































