3 Tantangan Asia Hadapi Era Globalisasi

Laporan dari Singapura

3 Tantangan Asia Hadapi Era Globalisasi

- detikFinance
Selasa, 06 Jul 2010 08:40 WIB
3 Tantangan Asia Hadapi Era Globalisasi
Singapura - Asia boleh dikatakan menjadi kawasan yang paling cepat mengalami pertumbuhan ketimbang region lainnya yang sudah lebih dulu melaju. Asia diperkirakan bakal menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi dunia di masa mendatang, khususnya dalam era globalisasi.

Dalam menghadapinya, Deputi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Singapura, Teo Chee Hean mengatakan, ada 3 hal utama yang harus diperhatikan oleh masyarakat Asia guna membekali diri menapak di era globalisasi.

"Ekonomi dunia saat ini sedang dalam proses pergeseran struktural. Asia menjadi motor pertumbuhan ekonomi dua yang baru," ujar Teo dalam Reuni Akbar Hitachi Young Leaders Initiative (HYLI) di Raffles City Convention Centre, Singapore, Senin (5/7/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teo menekankan, kawasan Asia merupakan kawasan dengan rasio pertumbuhan tercepat dibanding kawasan lainnya. Oleh sebab itu, lanjutnya, Asia mau tidak mau harus mempersiapkan diri menjadi salah satu kunci vital roda ekonomi dunia di masa mendatang.

Menurut Teo, motor pertumbuhan ekonomi Asia terutama akan terkonsentrasi di kawasan Asia Tenggara atau yang lebih sering disebut ASEAN. Ia memproyeksikan, pertumbuhan penduduk ASEAN akan mencapai 30% menjadi 750 juta penduduk di 2050.

"Ini akan menjadikan ASEAN sebuah pasar yang signifikan dan penting bagi perekonomian dunia di masa mendatang," ujarnya.

Teo menyebutkan 3 faktor utama yang harus diperhatikan masyarakat Asia guna menghadapi perubahan cepat tersebut.

"Pertama, perhatian dunia di masa mendatang akan fokus pada wacana lingkungan hidup. Kedua, pertumbuhan Asia yang sangat cepat, lebih cepat ketimbang pertumbuhan dunia. Konsekuensinya, Asia perlu memastikan tingkat kualitas
hidupnya di masa mendatang," papar Teo.

"Terakhir, perkembangan teknologi khususnya jaringan pita lebar (broadband), ponsel dan internet akan menyediakan wadah bagi munculnya perangkat interaksi dan komunikasi baru yang berdampak pada terjadinya perubahan sosial secara cepat," imbuhnya.

Teo menjabarkan, isu lingkungan hidup yang ia sebut sebagai faktor pertama yang harus diperhatikan Asia, akan menjadi penting baik bagi individu korporasi maupun pemerintahan di masa mendatang.

Konferensi dunia tentang pemanasan ekonomi global di Copenhagen November 2009, dinilai Teo tidak menghasilkan perjanjian yang mengikat.

"Diharapkan pada pertemuan berikutnya yang berlangsung di Meksiko, Desember 2010, isu lingkungan hidup dan pemanasan global akan mencapai kesepakatan yang mengikat. Dalam mencari solusi masalah pemanasan global, baik negara maju atau berkembang akan menghadapi problem yang sama dibidang pembiayaan, adaptasi dan transfer teknologi yang harus dicari solusinya," ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjutnya, masyarakat Asia terpaksa harus menjadi bagian dalam upaya penyelesaian berbagai hambatan di atas.

"Terlebih, Asia adalah salah satu wilayah yang paling rentan terhadap terjadinya perubahan lingkungan," jelas Teo.

Faktor kedua yang Teo nilai harus diperhatikan masyarakat Asia adalah soal pertumbuhan cepat kawasan Asia ketimbang dunia. Pertumbuhan cepat berarti mendorong terjadinya percepatan industrialisasi dan urbanisasi Asia.

"Percepatan ini akan memberikan dampak signifikan kepada ketersediaan pangan, energi dan sumber daya alam (SDA). Oleh sebab itu lanjutnya, perlu peran aktif dari berbagai pihak untuk menyelesaikan masalah tersebut," paparnya.

Bertentangan dengan itu, pertumbuhan cepat kawasan Asia tidak diiringi dengan peningkatan populasi produktif. Oleh sebab itu, kawasan Asia dihadapkan dengan situasi kekurangan polulasi produktif di masa mendatang.

"Pada 2050, Asia akan menjadi tempat tinggal 2/3 populasi bumi yang berusia di atas 60 tahun. Ini merupakan sebuah tantangan yang harus dicari solusinya," ujarnya.

Itulah sebabnya, ujar Teo, pemerintahan di kawasan Asia cukup fokus memperhatikan ancaman kekurangan usia produktif ini, khususnya terhadap dampaknya pada kemampuan kompetisi ekonomi, jaminan kesehatan dan penurunan
pasokan pangan di Asia," ujarnya.

Faktor terakhir yang Teo nilai perlu diperhatikan adalah perkembangan teknologi global yang sangat cepat. Menurutnya, perkembangan teknologi, terutamma di bidang informasi dan komunikasi, akan mendorong terjadinya benturan antar negara, budaya dan agama.

"Termasuk di ASEAN," jelasnya.

Oleh sebab itu, ia menegaskan perlunya peran aktif masing-masing negara di Asia, khususnya ASEAN, untuk mengembangkan program-program edukasi masyarakat untuk mencegah terjadinya benturan-benturan tersebut.

"Pertemuan HYLI sebagai salah satu bentuk nyata dari upaya ke arah sana," katanya. HYLI merupakan suatu forum internasional yang digalang oleh Hitachi Group sebagai salah satu bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) sejak 1996.

Forum ini mempertemukan para generasi muda unggulan dari 7 negara di Asia, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam, Thailand dan Jepang. Dalam forum ini, muda-mudi Asia tersebut menggodok ide dan pemikiran yang
diharapkan bisa memberikan solusi atas persoalan-persoalan dunia kini-mendatang.

"Dunia banyak mengalami perubahan selama 1 abad terakhir, Hitachi akan terus berpartisipasi dalam membina pemimpin-pemimpin masa depan dengan program HYLI," ujar Chief Executive & Chief Innovation Officer for Asia Hitachi, Yasunori Taga.

Sejak diadakan pertama kali diadakan pada tahun 1996 di Singapura, HYLI telah menelorkan 224 alumni. Kini, bersamaan dengan pagelaran HYLI ke 10, Hitachi mengadakan reuni akbar seluruh alumni dari 9 HYLI yang telah berlangsung sebelumnya.

"Selama penyelenggaraannya tahun ini, para peserta akan berdiskusi tentang serangkaian isu yang mempengaruhi Asia. HYLI merupakan forum yang berfungsi menggabungkan perspektif dan ide-ide yang sesuai dengan keahlian mereka dalam
solusi yang layak untuk perkembangan dan kemajuan Asia," jelas Yasunori.

Menurut Senior Manager, External Affairs Department, International Strategy Division Hitachi, Yoichi Yamano, pada dasarnya tidak ada keuntungan yang diterima perusahaan secara langsung dengan program HYLI ini.

Sebab, tujuannya bukanlah keuntungan material, melainkan lebih kepada menciptakan orang-orang yang dapat menjadi pemimpin Asia di masa mendatang.

"Asia akan memiliki peran di masa mendatang. Namun harus diakui, Asia masing kekurangan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memimpin. HYLI merupakan salah satu upaya kami mempertemukan calon-calon pemimpin Asia dalam satu forum. Tidak ada keuntungan yang diterima perusahaan secara langsung," jelas Yoichi.

Untuk wilayah Asia, Hitachi Group mengoperasikan 12 bisnis usahanya  7 negara yang telah disebut di atas. Sebagai bentuk CSR perseroan, masing-masing usaha di 7 negara tersebut akan melakukan seleksi terhadap ribuan kandidat-kandidat.

Hitachi akan memilih 4 peserta terseleksi dari masing-masing negara, sehingga tiap pagelaran HYLI akan diikuti oleh 28 peserta. Nantinya, para peserta ini akan dibagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 1 orang wakil dari
masing-masing negara.

Tiap kelompok ini akan membahas persoalan-persoalan seputar Asia dan dunia secara intensif. Para peserta dituntut mampu menggabungkan kemampuan riset ilmiah, menyuguhkan ide dan solusi yang segar sekaligus kemampuan memimpin
organisasi.

"Forum ini akan menghasilkan generasi muda yang memiliki sudut pandang dan kemampuan mental yang baru, karena mereka telah melalui proses peleburan ide-ide dan persoalan-persoalan dari berbagai sudut pandang," ujar Yoichi.

Alumnus-alumnus HYLI  yang memiliki bekal yang telah digembleng ini diharapkan akan berpartisipasi aktif dalam mengembangkan masyarakat di tempat mereka tinggal.

"Dan dengan adanya forum ini, alumnus-alumnus HYLI akan memiliki jaringan antar negara yang tentu akan menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi mereka untuk mengembangkan diri," jelas Yoichi.

Kendati demikian, Teo melihat masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan masyarakat Asia dan dunia guna melakukan berbagai pembenahan dalam menyambut era globalisasi. Sebab program HYLI saja tidak cukup.

"Selama 14 tahun sejak HYLI pertama tahun 1996, Asia dan dunia telah mengalami berbagai peristiwa besar seperti dua krisis finansial (1997 dan 2008), serangan WTC pada September 2001 yang menyulut dua perang yang masih berlangsung hingga kini hingga peristiwa bom Bali 2002 yang menyingkap sisi kekerasan dan ekstrim di ASEAN," jelas Teo.

Ia juga menyebutkan berbagai masalah lain yang menjadi tantangan dunia dalam era lobalisasi seperti wabah SARS di 2003 dan H1N1 dua tahun lalu. Ada juga peristiwa Tsunami di samudera Hindia Tsunami Aceh) pada 2003 serta meletusnya gunung E15 di Islandia yang mengacaukan lalu lintas udara eropa.

"Kita harus siap menghadapi situasi yang serba tidak pasti di masa mendatang, khususnya di Asia," ujar Teo.





(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads