Demikian hal itu diungkapkan oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (15/7/2010).
"Nilai proyeknya US$ 8-9 miliar, kapasitas 300.000 bph. Nanti crude-nya (minyak mentah) dari Kuwait," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hidayat, Pertamina akan melakukan pertemuan dengan pihak Kuwait pekan depan untuk membicarakan lebih lanjut mengenai proyek tersebut.
"Makanya nanti komposisi sahamnya diatur, Pertamina dengan Kuwait minggu depan akan berbicara mengenai financing, tapi tadi Pertamina minta persetujuan prinsip dari pemerintah," ujarnya.
Meski demikian, ia mendorong perusahaan pelat merah itu untuk menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan patungan itu nanti. "Saya usul 51 persen itu Pertamina," ungkapnya.
Dengan adanya pasokan minyak mentah dari Kuwait dan diproses di kilang tersebut, ia mengharapkan pasokan BBM dalam negeri bisa terpenuhi.
Selain menggandeng Kuwait, Pertamina juga tengah melakukan penjajakan dengan investor asal Iran. Namun, menurut Hidayat, hal ini dirasa masih berat karena ada beberapa persayaratan yang diberikan oleh Iran.
Dirut Pertamina Karen Agustiawan sebelumnya mengatakan, Pertamina berambisi untuk menambah dua kilang di tahun 2014, dalam rangka mengamankan pasokan BBM dalam negeri. Dua kilang yang bisa selesai dibangun pada tahun 2014 yaitu ekspansi kilang balongan dan unit Residual Fluid Catalytic Craker di Kilang IV Cilacap.
(ang/dnl)











































