Benarkah RI Menuju Krisis Seperti 1998?

Benarkah RI Menuju Krisis Seperti 1998?

Andi Hidayat - detikFinance
Sabtu, 06 Jun 2026 18:55 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan Rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Dolar AS/Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Perekonomian Indonesia diklaim berada dalam kondisi yang kuat dan mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal. Pelemahan terhadap nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar keuangan yang terjadi belakangan disebut karena sentimen global.

Berdasarkan catatan tersebut, ekonomi Indonesia dianggap jauh dari kondisi krisis 1998. Mengingat struktur ekonomi nasional saat ini dianggap memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan saat krisis Asia.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan Indonesia menghadapi kolaps di sektor perbankan dengan inflasi yang tinggi pada krisis 1998. Kemudian saat itu posisi nilai tukar rupiah juga meningkat tajam seiring terkontraksi ekonomi nasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koreksi terhadap mata uang rupiah saat itu, terang Josua, tidak dapat disamakan dengan kondisi saat krisis. Pada 1998, nilai tukar rupiah melemah sangat tajam dari sekitar Rp 4.000 per dolar AS menjadi lebih dari Rp 16.000 per dolar AS.

"Kalau dibandingkan dengan 1998, situasinya sangat jauh berbeda. Saat ini instrumen kebijakan dan fondasi ekonomi kita jauh lebih kuat untuk menghadapi gejolak global," jelas Joshua dalam keterangan tertulis, Sabtu (6/6/2026).

ADVERTISEMENT

Sementara saat ini, Joshua menilai kondisi ekonomi baik tercermin dari data makro yang cenderung positif. Meski begitu, ka mengakui sebagian masyarakat masih merasakan tekanan terhadap kondisi keuangannya.

Namun menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan pola konsumsi dibandingkan penurunan daya beli secara menyeluruh.
Tekanan harga pada sejumlah komoditas membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan pendapatannya.

Sementara secara agregat, konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk menjaga kelompok masyarakat rentan, pemerintah juga memperkuat berbagai program perlindungan sosial agar dampak tekanan ekonomi dapat diminimalisir.

Terkait program prioritas pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Josua menilai efektivitas program tidak tepat diukur hanya dalam jangka pendek.

Menurutnya, program ini menjadi investasi jangka panjang yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperkuat aktivitas ekonomi di tingkat daerah.

Josua juga menegaskan kepercayaan publik merupakan salah satu modal terpenting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, ekonomi harus mencerminkan keyakinan masyarakat, pelaku usaha, dan investor.

"Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat, kapasitas kebijakan yang memadai, dan peluang yang besar untuk terus tumbuh. Karena itu, optimisme yang didasarkan pada data dan pemahaman yang baik menjadi sangat penting dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan," pungkasnya.

(ahi/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads