Demikian disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia Adi Tahir, di Swiss-Belhotel Maluku, Sabtu (18/7/2010) malam.
"Yang baru menikmati ratifikasi perjanjian Thailand. Di Asia Tenggara yang belum hanya Indonesia, Laos dan Kamboja. Dengan ratifikasi ada peningkatan ekspor barang ke Australia US$ 1 miliar," jelas Adi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita bersama Australia butuh lebih dari FTA. Kita butuh kerja sama partnership. Apalagi Maluku lebih dekat dari Australia. Dengan potesi alam yang dimiliki, banyak yang bisa dikembangkan," papar Adi.
"Untuk Maluku, buka wawasan lah, bisa Australia bisa Philipina. Harus membangun networking yang baik untuk bisa membangun Maluku," tegasnya.
Menurut Adi, Indonesia jangan lagi berharap banyak dari China, khususnya untuk pengembangan negera ke depan. China tidak lagi menjual barang-barangnya dengan murah karena kebijakan renminbi, yang menyebabkan nilai mata uang Yuan mahal.
"Mereka (China) lebih banyak investasi di dalam negeri. Kita jangan berharap investasi downstream dari China, tidak mungkin. Yang kita bisa harapkan yang Australia ini," paparnya.
Ia pun mengakui, untuk masuk ke pasar Australia sangat sulit. Butuh kualitas yang baik, sesuai strandarisasi yang berlaku di negara Kangguru ini.
"Kami inginnya, (buah) mangga lah setidak-tidaknya masuk Australia. Agak susah memang. Apel New Zeland saja susah masuk. Orang saja kalau masuk, disemprot kayak buah," canda Adi.
(wep/ang)










































