"Ini dalam rangka memperbaiki distribusi gula," kata Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha Perum Bulog Deddy SA Kodir dalam acara jumpa pers di kantor Bulog, Jakarta, Kamis (22/7/2010).
Untuk memuluskan hal ini Bulog setidaknya menyiapkan cashflow senilai Rp 600 miliar. Meski total dana yang dibutuhkan untuk membeli seluruh gula PTPN (IX, X, dan XI) dan RNI yang masih ada 400.000 ton, diperlukan dana sebesar Rp 3,2 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, lanjut Deddy, gula milik PTPN dan RNI tidak lagi diageni tapi akan di takeover oleh Bulog.
Sehingga akan ada penguasaan fisik gula oleh Bulog, dampaknya ritme penyaluran bisa sesuaikan kebutuhan, agar tak jadi gejolak harga. Hal ini sangat berbeda saat memakai pola keagenan, Bulog tak memegang kendali penyaluran.
Meski kata Deddy, pada tahun ini Bulog masih menerapkan pola keagenan untuk gula PTPN VII dan II yang sudah terlanjur digiling sebanyak 200.000 ton.
Ia berharap kedepan Bulog bisa menguasai pasar gula setidaknya 25-30% dari total peredaran gula di pasar dalam negeri. Sehingga peran Bulog bisa melakukan stabilisasi harga gula yang selama ini fluktuatif, termasuk dalam memanfaatkan peluang izin impor gula.
"Kita juga sedang mempersiapkan diri membangun jaringan," ucapnya.
(hen/dnl)











































