Industri Pakaian Muslim RI Bernilai US$ 10 Miliar

Industri Pakaian Muslim RI Bernilai US$ 10 Miliar

- detikFinance
Sabtu, 24 Jul 2010 10:27 WIB
Jakarta - Indonesia menargetkan menjadi kiblat pakaian muslim dunia pada 2020. Sumbangan industri pakaian muslim ini ke perekonomian dalam negeri saat ini nilainya mencapai sekitar US$ 10 miliar.

Direktur Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) Gilarsi W. Setijono menyatakan industri fesyen termasuk ke dalam 8 industri yang memiliki peluang cukup baik untuk dimajukan.

Kedelapan industri tersebut adalah agribisnis, tourism, food and drink, textile and clothing, IT, retail, petrochemical, dan farmasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Textile dan clothing berada pada medium dengan kesempatan mid-high," ujarnya saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (23/7/2010).

Gilarsi menyampaikan sumbangan ekonomi dari industri mode dunia secara keseluruhan berkisar US$ 1,7 triliun. Proporsi untuk ekonomi Islam sebesar 13,4% atau sebanding dengan US$ 228 miliar.

"Indonesia sendiri menghasilkan US$ 10 miliar untuk bidang ini," ujarnya.

Selain potensi fesyen dalam perekonomian dunia tersebut, Indonesia juga memiliki 3 potensi khas yang hanya dimiliki Indonesia, terutama dalam mengembangkan fesyen muslim. Pertama, penduduk Indonesia mayoritas Islam. Kedua, budaya Indonesia sangat banyak.

"Kita nomor 1 yang penduduk Islamnya terbanyak. Negara lain adalah Pakistan. Indonesia mempunyai kekayaan budaya, ada macam-macam payet, bordir. Jadi negara yang pantas menjadi Islam dunia adalah Indonesia. Paris tidak akan berani challenge, Cina, New York tidak akan berani challenge," ujarnya.

Oleh karena itu, Gilarsi menyatakan IIFC menargetkan Indonesia sebagai kiblat high fashion muslim dunia di tahun 2020.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads