Defisit APBN-P 2010 Bisa di Bawah 2%

Defisit APBN-P 2010 Bisa di Bawah 2%

- detikFinance
Senin, 26 Jul 2010 13:41 WIB
Jakarta - Penyerapan anggaran yang rendah bisa menyebabkan defisit pada APBN-P 2010 akan turun lebih rendah dari target semula sebesar 2,1% (Rp 133 triliun). Bahkan defisit anggaran tahun ini bisa di bawah 2%.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengungkapkan dengan tren penyerapan anggaran tahun ini yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

"Target kita tetap 2,1%. Defisit dimungkinkan lebih rendah karena terkait dengan penyerapan anggaran. Kadang-kadang keuangan berusaha penyerapan lebih baik. Tetapi kalau penyerapan tidak 100%, defisit bisa lebih rendah," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (26/7/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Armida menyatakan defisit bisa di bawah 2%. Namun, hal tersebut tetap terkait dengan penyerapan anggaran. "Bisa di bawah 2%, ya tergantung penyerapan anggaran," jelasnya.

Sebelumnya, pemerintah mengakui penyerapan anggaran belanjanya pada paruh pertama tahun ini lebih rendah 2% dibandingkan realisasi periode yang sama 2009.

"Penerimaan negara itu lebih baik dibandingkan dengan tahun lalu sampai dengan Juni ini. Penyerapan anggaran yang lebih buruk, khususnya di belanja modal. Ini merupakan suatu hal yang klasik dari tahun ke tahun terjadi seperti ini," ungkap Menteri Keuangan Agus Martowardojo.

Pemerintah menyoroti upaya untuk mencari solusi strategis dalam rangka membuat penyerapan anggaran belanja negara menjadi lebih baik ke depan.

Agus Marto mengatakan rata-rata belanja kementerian dan lembaga (K/L) secara nasional sejauh ini sekitar 29% dari pagu APBN-P 2010 Rp 366,22 triliun.

Karenanya, dia berharap sekitar 20 K/L yang realisasinya masih di bawah 29%, meningkatkan kualitas dan percepatan belanjanya pada 6 bulan waktu yang tersisa.

Agus sempat melaporkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) per 7 Juli membukukan surplus anggaran hingga Rp 156 triliun akibat rendahnya penyerapan anggaran.

Hal tersebut terkait pula dengan rendahnya kualitas kinerja belanja di 20 K/L.

"Kami dari waktu ke waktu melakukan monitor di antara lembaga yang absorb atau menyerapnya belum tinggi. Ada 20 K/L yang paling lamban kami monitor (kinerjanya)," tukasnya.

(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads