Impor Barang Konsumer Melonjak 39% Jelang Lebaran

Impor Barang Konsumer Melonjak 39% Jelang Lebaran

Herdaru Purnomo - detikFinance
Sabtu, 28 Agu 2010 18:28 WIB
Impor Barang Konsumer Melonjak 39% Jelang Lebaran
Jakarta - Pemerintah mencatat adanya lonjakan impor berupa consumer goods alias barang konsumer di Agustus 2010 menjelang lebaran hingga 39%.

"Barang konsumer naik 39 persen," ujar Hidayat disela Kunjungan Kerja Menko Perekonomian di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (28/08/2010).

Ia melanjutkan, barang-barang impor tersebut berupa makanan dan tekstil yang sebagian besar berasal dari Cina dalam satu bulan ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya mendapat laporan barang impor konsumsi tekstil dan makanan itu banyak beredar di Indonesia. Industri banyak dibanjiri barang-barang itu," ujarnya.

Namun, Hidayat menyatakan, berdasarkan data Bea Cukai, peningkatan impor lebih disebabkan kendaraan bermotor.

"Artinya mungkin saja ini terjadi masuknya barang-barang ilegal. Artinya saya bukan menuduh, ini hanya kehati-hatian saja," ujarnya.

Menurut Hidayat, lonjakan impor tersebut seharusnya bisa diantisipasi jika ada launching mengenai early warning sistem. "Jika diatas 8% ada early warning system maka kita bisa melakukan antisipasi lebih awal. Kali ini tidak," tutur Hidayat.

Ditempat yang sama, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Thomas Sugijata mengatakan kenaikan terbesar memang terjadi di bahan baku dan modal.

"Yang sekarang masih naik, bahan baku dan modal, kenaikannya paling besar. Jadi terdapat 177 sektor industri, yang akan terancam impor China," tutur Thomas.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan barang impor yang mengalami kenaikan cukup besar yakni kendaraan bermotor.

"Kendaraan bermotor meningkat, ini yang membuat Jakarta macet," katanya.

Laporan produksi, lanjut Hatta terdapat 6,375 juta unit motor masuk ke Indonesia terkahir. Direktur Informasi dan Kepabeanan Bea Cukai Susi Wijono mencatat kenaikan kendaraan bermotor tersebut mencapai 299% year on year.

"Jika dibandingkan dengan Thailand hanya 95% year on year. Barang masuk berarti cukup tinggi tidak ke Indonesia saja tapi berapa negara lain," tukasnya.

(dru/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads