"Proyek itu mau dikaji ulang karena ada kajian yang menyebutkan proyek tersebut tidak komersil," ujar Vice Presiden Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun saat dihubungi, Rabu (1/9/2010).
Menurut dia, proyek itu tidak ekonomis untuk dikerjakan jika hanya membangun kilang yang memproduksi BBM. "Harusnya terintegrasi dengan petrokimia agar bisa dapat margin yang lebih tinggi," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertamina telah menandatangani akte pendirian perusahaan PT Banten Bay Refinery dengan ORIDC Iran dan Petrofield, Malaysia. Dalam perusahaan patungan tersebut Pertamina memiliki saham 40%, Oil Refining Industries Development Company (ORIDC), Iran (40%) dan Petrofield, Malaysia (20%).
Perusahaan ini direncanakan akan melakukan pembangunan kilang minyak di Bojonegara, Banten dengan kapasitas 150.000 barel per hari pada tahap pertama. Kilang direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2014.
Rencana pembangunan kilang berkapasitas 300.000 barel per hari itu sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Pada tahap awal, kilang Banten akan dibangun dengan kapasitas 150.000 barel per hari yang mengolah minyak mentah jenis Iranian Extra Heavy Crude sebesar 50% dan Iranian Heavy Crude 50%. Seluruh minyak yang akan diolah ini dipasok ORIDC.
Pembangunan kilang tahap pertama tersebut ditargetkan mulai berlangsung tahun 2010 dengan jadwal produksi tahun 2014. Produk kilang yang didesain menghasilkan gasoline ON 90/95, diesel oil , fuel oil , avtur, elpiji, coke, sulfur, dan petrokimia akan diprioritaskan antara 70-100% buat pasar domestik dan sisanya diekspor sesuai standar Euro IV.
Kilang yang dibangun di atas lahan milik PT Pelindo II di Bojanegara, Banten itu mendapat pasokan gas 110 MMSCFD dari PT PGN Tbk dan PT BAGS dan listrik sebesar lima MW dari PT PL
Â
Â
(epi/dro)











































