Konsumsi Premium Naik 4-5% Per Bulan

Konsumsi Premium Naik 4-5% Per Bulan

- detikFinance
Kamis, 16 Sep 2010 14:55 WIB
Jakarta - Tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor di tanah air telah mendorong peningkatan konsumsi premium sebesar 4-5% setiap bulannya. Pada tahun ini, pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor mencapai 10-15%.

"Kenaikannya sekitar 4-5% per bulan. Hampir merata di seluruh wilayah," ujar Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Djaelani Sutomo di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (16/9/2010).

Menurut dia kenaikan tersebut didorong oleh tingginya penambahan jumlah kendaraan bermotor di tanah air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hampir semua merata wong penambahan kendaraannya sama," jelasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama Pertamina, Karen Agustiawan menyatakan, kenaikan jumlah kendaraan bermotor sepanjang tahun ini sekitar 10-15%.

Kenaikan tersebut telah menyebabkan konsumsi premium terus meningkat sehingga melebihi kuota BBM bersubsidi yang ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2010.

Untuk itu, Karen membantah jika pembatasan konsumsi BBM bersubsidi yang saat ini tengah digodok pemerintah, disebut-sebut sebagai cara untuk mengalihkan masyarakat agar meninggalkan premium lalu pindah ke Pertamax.

Untuk diketahui, saat ini penjualan Pertamax sendiri tidak mengalami peningkatan dengan rata-rata penjualan sekitar 1.500 kiloliter per hari

"Jadi bukan kita mau mengalihkan, bukan. Dari data yang ada sekarang, tahun ini saja, roda empat dan roda dua itu naik sekitar 10%-15%. Jadi kalau misalnya itu naik, maka akan tercermin dalam penggunaan premium. Tiap tahunnya terus naik, Cuma tahun ini agak besar karena mungkin jumlah kendaraan itu terus tumbuh besar," jelasnya.

Karen menyatakan, hingga kini mekanisme pengurangan konsumsi premium dengan mengganti dispenser premium  menjadi pertamax di SPBU-SPBU di kawasan elit kota-kota besar masih dirumuskan dan akan diputuskan bulan ini juga.

Pada tahap awal, perusahaan migas pelat merah itu akan fokus dulu untuk menerapkan hal itu di pulau Jawa, mengingat tingginya konsumsi BBM bersubsidi di wilayah tersebut.
 
"Nanti akan kita lihat, mungkin di lingkungan yang konsumsinya itu paling tinggi seperti di pulau Jawa. Jadi kita konsentrasi di pulau jawa dulu Sekarang kita masih merumuskannya. Mungkin nanti sebelum Oktober sudah ada keputusannya," tambahnya.

Penjualan Solar Capai 25 Juta Kiloliter


Peningkatkan konsumsi BBM bersubsidi di masyarakat tidak hanya terjadi di premium saja, Djaelani memperkirakan konsumsi solar pada tahun ini akan mencapai 25 juta KL. Padahal kuota solar dalam APBN-P 2010 hanya dipatok di level 11,194 juta KL.

"sekitar 25 jutaan KL tahun ini," ungkapnya.

Namun, Djaelani memproyeksikan konsumsi solar pada tahun depan akan menurun seiring dengan mulai beroperasinya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) milik PT PLN (Persero).

"Kemungkinan turun karena PLN kan mengurangi BBM," tuturnya.

Sayangnya, Ia masih belum bisa menyebutkan berapa besar penurunan konsumsi solar tersebut.

Yang jelas, jika seluruh PLTU milik PLN sudah beroperasi semua, maka penurunan konsumsi solar akan sangat terasa karena saat ini perusahaan listrik pelat merah itu mengkonsumsi 10 juta KL dari 25 juta KL solar yang dijual Pertamina

"Belum tahu tergantung dari kesiapan PLN-nya. Yang jelas turunnya akan signifikan kalau PLTU-nya mereka selesai semua," paparnya. (epi/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads