"Impor diperkirakan akan cukup tinggi dibanding ekspor pada 2011," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI, Senin malam (20/09/2010).
Oleh karena itu, lanjut Agus, hal tersebut akan berpengaruh pada neraca perdagangan. "Dimana akan menyebabkan penurunan surplus neraca perdagangan," tambahnya..
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut Agus mengatakan, pada RAPBN 2011 pemerintah mengasumsikan rupiah akan berada pada level Rp 9.300/US$ atau cenderung lebih lemah dari 2010.
"Rupiah relatif stabil, dengan kecenderungan sedikit melemah dibanding 2010. Level Rp 9.300/US$ masih realistis," jelasnya.
Ditempat yang sama, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menambahkan, capital inflow diprediksikan masih akan terus mengalir pada 2011, sehingga cukup menjadi penunjang nilai tukar rupiah.
"Memang, ada faktor lain yakni capital inflow oleh sebab itu bukan Rp 9.400/US$, tetapi Rp 9.300/US$," tutur Darmin.
Seperti diketahui, pada Juli 2010 lalu, impor mulai memperlihatkan kenaikan yang berdampak pada neraca perdagangan. Neraca perdagangan untuk pertama kalinya sepanjang 2010, mencatatkan defisit sebesar US$128,7 juta per Juli 2010.
(dru/ang)










































