Mendag Tanggapi Santai Proyeksi Kenaikan Impor RI

Mendag Tanggapi Santai Proyeksi Kenaikan Impor RI

- detikFinance
Selasa, 21 Sep 2010 16:32 WIB
Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan adanya proyeksi tingginya impor dari pada ekspor pada tahun mendatang tidak terlepas dari dampak investasi. Namun kondisi ini bukan berarti kinerja ekspor Indonesia melemah. 

"Adanya tren impor yang terjadi dan diperkirakan berlanjut tahun depan tidak berarti kinerja ekspor menurun," kilah Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di kantornya, Jakarta, Selasa (21/9/2010).

Ia mengatakan tren impor akan masih didominasi oleh barang modal dan bahan baku untuk produk manufaktur dalam rangka investasi untuk pemenuhan pasar lokal maupun orientasi ekspor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikatakannya  dengan target pertumbuhan investasi rata-rata di kisaran 11%, justru tren impor tersebut justru merupakan pemacu dan pendukung pencapaian target tersebut.

"Proyeksi pertumbuhan impor sekitar 12% dan ekspor di kisaran 10%-11%," katanya.

Menurut Mari sepanjang tahun ini impor untuk bahan baku dan barang modal menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan dibanding barang konsumsi.

Sebelumnya Menteri Keuangan Agus Martowardojo memproyeksikan arus impor akan lebih tinggi ketimbang ekspor pada tahun 2011. Karena tingginya impor tersebut, Agus menyatakan akan terjadi penurunan surplus neraca perdagangan pada tahun depan.

"Impor diperkirakan akan cukup tinggi dibanding ekspor pada 2011," ujar Menteri Keuangan Agus Martowardojo, dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR-RI, Senin malam (20/09/2010).

Oleh karena itu, lanjut Agus, hal tersebut akan berpengaruh pada neraca perdagangan. "Di mana akan menyebabkan penurunan surplus neraca perdagangan," tambahnya.

Agus juga menyatakan, turunnya surplus neraca perdagangan akan berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah untuk 2011. "Hal ini sedikit melemahkan rupiah pada 2011," ujarnya.

Lebih lanjut Agus mengatakan, pada RAPBN 2011 pemerintah mengasumsikan rupiah akan berada pada level Rp 9.300/US$ atau cenderung lebih lemah dari 2010.

(hen/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads