Pjs Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Agus Supriyanto menilai memang masih ada peluang untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi dari 6,3% menjadi 6,4%. Namun, jika harus dinaikkan lagi maka hal itu akan berisiko.
"Memang ada peluang untuk sampai 6,4%. Tapi kalau 6,5% itu terlalu panas," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (21/9/2010) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(genjot) Investasi, pembangunan infrastruktur, PPP. Kemudian rating kita naik. Peringkat kita sebagai negara tujuan investasi juga naik. Itu peluang-peluang yang membuat kita berani ambil optimis 6,4% walaupun itu masih belum memenuhi harapan para anggota dewan 6,5% bahkan 7%," jelasnya.
Untuk revisi nilai tukar rupiah dari yang sebelumnya Rp 9.300 per dolar AS menjadi Rp 9.250, Agus menilai level tersebut masih dirasakan nyaman untuk Bank Indonesia.
"Kita melihat sekarang kan 9000an, akan melemah lagi nanti. Rp 9.300 mungkin terlalu ... Tapi Rp 9.250 tuh masih nyamanlah BI kita," ujarnya.
Agus menyatakan revisi asumsi makro tersebut tidak mengubah asumsi defisit. Defisit ditahan pada level 1,7%. Asumsi makro tersebut, hanya akan mengubah komponen belanja dan penerimaan.
"Otomatis nanti ada saving dari pembayaran cicilan pokok utang dan bunga. Kemudian penerimaan migas berkurang, PPh migas berkurang, kemudian yang terkait dengan internasional pasti semua kita berkurang," ujarnya.
Namun, Agus mengaku belum menghitung hasil optimalisasi untuk revisi asumsi makro yang dilakukan pemerintah. Yang jelas, lanjutnya, optimalisasi tersebut sangat tergantung dari arah penggunaan anggaran untuk belanja.
"Kita belum hitung-hitungan hasil optimalisasinya. Tergantung kita menempatkan ke mana hasil optimalisasi ini. Kalau belanja modal, infrastruktur, otomatis belanja meningkat," urainya.
Sebelumnya, dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI pada kemarin malam (21/9/2010), Pemerintah dan anggota dewan sepakat mengubah beberapa asumsi makro. Pertumbuhan ekonomi direvisi dari 6,3% menjadi 6,4% dan nilai tukar rupiah terhadap dolar direvisi dari Rp 9.300 menjadi Rp 9.250. Sedangkan inflasi masih ditahan di level 5,3%. Begitu juga dengan suku bunga SBI 3 bulan pada level 6,5%.
(nia/qom)










































