Tumbuh Lebih dari 6,4%, Ekonomi RI Bisa 'Kepanasan'

Tumbuh Lebih dari 6,4%, Ekonomi RI Bisa 'Kepanasan'

- detikFinance
Rabu, 22 Sep 2010 08:14 WIB
Jakarta - Pemerintah tidak bisa menaikkan lagi target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 yang ditetapkan sebesar 6,4%. Target yang lebih tinggi lagi akan membuat ekonomi RI terlalu 'panas'.

Pjs Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Agus Supriyanto menilai memang masih ada peluang untuk menaikkan pertumbuhan ekonomi dari 6,3% menjadi 6,4%. Namun, jika harus dinaikkan lagi maka hal itu akan berisiko.

"Memang ada peluang untuk sampai 6,4%. Tapi kalau 6,5% itu terlalu panas," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (21/9/2010) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mencapai target 6,4%, lanjut Agus, pemerintah harus menggenjot investasi. Dengan begitu, akan ada ruang untuk melakukan peningkatan belanja terutama untuk sektor infrastruktur.

"(genjot) Investasi, pembangunan infrastruktur, PPP. Kemudian rating kita naik. Peringkat kita sebagai negara tujuan investasi juga naik. Itu peluang-peluang yang membuat kita berani ambil optimis 6,4% walaupun itu masih belum memenuhi harapan para anggota dewan 6,5% bahkan 7%," jelasnya.

Untuk revisi nilai tukar rupiah dari yang sebelumnya Rp 9.300 per dolar AS menjadi Rp 9.250, Agus menilai level tersebut masih dirasakan nyaman untuk Bank Indonesia.

"Kita melihat sekarang kan 9000an, akan melemah lagi nanti. Rp 9.300 mungkin terlalu ... Tapi Rp 9.250 tuh masih nyamanlah BI kita," ujarnya.

Agus menyatakan revisi asumsi makro tersebut tidak mengubah asumsi defisit. Defisit ditahan pada level 1,7%. Asumsi makro tersebut, hanya akan mengubah komponen belanja dan penerimaan.

"Otomatis nanti ada saving dari pembayaran cicilan pokok utang dan bunga. Kemudian penerimaan migas berkurang, PPh migas berkurang, kemudian yang terkait dengan internasional pasti semua kita berkurang," ujarnya.

Namun, Agus mengaku belum menghitung hasil optimalisasi untuk revisi asumsi makro yang dilakukan pemerintah. Yang jelas, lanjutnya, optimalisasi tersebut sangat tergantung dari arah penggunaan anggaran untuk belanja.

"Kita belum hitung-hitungan hasil optimalisasinya. Tergantung kita menempatkan ke mana hasil optimalisasi ini. Kalau belanja modal, infrastruktur, otomatis belanja meningkat," urainya.

Sebelumnya, dalam rapat dengan Komisi XI DPR RI pada kemarin malam (21/9/2010), Pemerintah dan anggota dewan sepakat mengubah beberapa asumsi makro. Pertumbuhan ekonomi direvisi dari 6,3% menjadi 6,4% dan nilai tukar rupiah terhadap dolar direvisi dari Rp 9.300 menjadi Rp 9.250. Sedangkan inflasi masih ditahan di level 5,3%. Begitu juga dengan suku bunga SBI 3 bulan pada level 6,5%.

(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads