"Posisi sekarang kita lakukan evaluasi laporan keuangannya Inalum secara resmi berikan. Kami lalu meminta Ernst & Young untuk melakukan evaluasi terhadap laporan (keuangan) itu supaya kita dapat second opini," kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di Jakarta, Rabu malam (22/9/2010).
Dikatakan Hidayat, hasil audit Ernst & Young akan menjadi salah satu modal Indonesia untuk melakukan negosiasi dengan Jepang yang akan dimulai akhir Oktober 2010 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hidayat mengakui kebutuhan alumunium di Indonesia hanya baru dipasok 22% oleh Inalum sehingga ke depannya harus ditingkatkan. Sementara alokasi untuk Jepang relatif lebih besar.
Selain itu Hidayat menegaskan hasil negosiasi dengan Jepang pada ujungnya untuk mengedepankan kepentingan nasional.
Inalum merupakan sebuah perusahaan patungan antara Indonesia dengan Jepang, yang bergerak dalam industri aluminium dengan kapasitas produksi sekitar 230.000-240.000 ton per tahun.
Pemerintah Indonesia menguasai kepemilikan sebesar 41,13% saham di perusahaan itu, sementara sisanya sebesar 58,87% dikuasai Jepang.
Inalum merupakan satu-satunya perusahaan lokal yang bergerak di sektor produksi aluminium. Selama ini, hasil produksi Inalum sebagian besar dikirim ke Jepang, dan Indonesia sendiri harus mengimpor alumunium dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Dari negosiasi dengan Jepang akan menentukan apakah PT Inalum setelah 2013 akan dikuasai oleh Indonesia seluruhnya atau porsi saham Jepang akan tetap ada di Inalum atau kerjasama akan terus dilanjutkan.
(hen/dnl)











































