Ketum Baru Kadin Harus Bangunkan Industri RI yang Tertidur

Ketum Baru Kadin Harus Bangunkan Industri RI yang Tertidur

- detikFinance
Sabtu, 25 Sep 2010 14:44 WIB
Jakarta - Ketua Umum Kadin yang baru terpilij nanti harus mampu untuk mendorong dan memperjuangkan industri-industri di dalam negeri yang tumbuh negatif dalam beberapa tahun terakhir sehingga tak ketinggalan di ASEAN.

Demikian disampaikan oleh Ketua Komite Tetap Kadin yang juga Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa dalam siaran pers, Sabtu (25/9/2010).

"Tahun 2007 hanya tiga sektor yang tumbuh negatif. Namun memasuki pemberlakuan AC-FTA (Asean China Free Trade Agreement), jumlahnya sudah lebih dari lima sektor seperti industri baja, tekstil, kayu, manufaktur dan beberapa lainnya. Kalau manufaktur kelihatannya sudah ada tanda-tanda tumbuh. Cuma yang harus didorong itu manufaktur nonmigas," tuturnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Erwin, selama ini pertumbuhan industri Indonesia di ASEAN sudah tertinggal jauh. Beberapa negara ASEAN saat ini sudah meluncurkan program stimulus tahap kedua untuk menggerakkan perekonomiannya pasca krisis global 2008/2009.

"Malaysia sudah meluncurkan stimulus industri tahap II melalui rencana pembangunan multi miliaran dolar dari Johor sampai perbatasan dengan perbatasan Thailand untuk mendorong pertumbuhan dan penggerak ekonomi memasuki status pendapatan tinggi Malaysia pada 2020. Hal yang sama akan diikuti oleh Thailand dan Vietnam. Industri di negara-negara ini sudah tumbuh di atas 10%. Sedangkan kita masih dibawa 5%. Padahal dulu (krisis 2008) kita tidak resesi. Ini yang harus dikejar," tambah Erwin.

Setelah krisis keuangan global 2008, pertumbuhan ekonomi negara-negara tetangga sudah mencapai 12%. Bahkan Singapura yang sempat resesi optimistis mencapai 15% akhir 2010. Sedangkan kita masih bersusah payah untuk mencapai 5% saja.

Salah satu faktor sulitnya mengejar pertumbuhan itu adalah melemahnya pertumbuhan industri nasional. Data HIPMI Research Center menunjukan, setelah 2004, pertumbuhan industri nasional turun empat kali. Jurang pemisah antara pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto/PDB) dan industri kian melebar.

Industri hanya tumbuh 4,05% pada 2008. Bahkan sebelum Asean China Free Trade (ACFTA)  berlaku pada awal 2010, beberapa cabang-cabang industri sudah tumbuh negatif sebelum melawan China.

Erwin berharap Pimpinan Kadin baru nantinya membantu pemerintah dalam menyusul roadmap baru industri nasional yang lebih jelas arahnya ke mana.

"Minimnya infrastruktur, biaya dana mahal, tumpang tindih regulasi, inefisiensi, kebijakan energi yang tidak pro industri dalam negeri, lemahnya inisiatif pada tingkat nasional, serta lemahnya daya saing industri daerah merupakan sederet persoalan yang mesti segera ditangani. Kita tidak bisa hanya berbicara pada level makro terus. Kita sudah harus masuk pada level mikro yakni berapa jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan listrik, BTS, kantor-kantor cabang bank, rumah sakit, pabrik, pusat-pusat perdagangan yang harus segera dibangun, jangan abstrak," tukas Erwin.

Saat ini Kadin sedang melakukan Munas VI yang agendanya memilih Ketua Umum baru menggantikan MS Hidayat.

Munas Kadin VI berlangsung 24-25 September 2010 yang akan memilih lima calon yaitu Adi Putra Tahir, Chris Kanter, Sandiaga Uno, Wishnu Wardhana, dan Suryo B. Sulisto.

(dnl/dnl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads