"Saya dapat aduan dari konsumen elpiji yang tinggal di Bumi Serpong Damai dan Bintaro. Mereka mengeluh karena sekarang kalau pakai elpiji, apinya tidak lagi berwarna biru. Tapi merah seperti pakai kompor minyak tanah. Begitu api sudah tidak menyala, harusnya kan karena gas elpijinya habis. Tapi ini pas dikocok tabungnya, ternyata gasnya masih ada," ujar pengamat kebijakan publik Agus Pambagio saat berbincang dengan detikFinance, Minggu malam (26/9/2010).
Berdasarkan hasil penelusurannya, Agus menemukan adanya dugaan perubahan komposisi kandungan propane dan butane dari elpiji 12 Kg yakni dari komposisi butane 40% dan propane 60%, menjadi butane 60% dan propane 40%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena propane itu kan daya bakarnya lebih tinggi dibanding butane. Makanya komponennya diubah," katanya.
Dari sisi harga, lanjut dia, sebenarnya perubahan komposisi ini tidak merugikan dan menguntungkan negara dan Pertamina. Karena harga kedua zat kimia tersebut relatif sama. Namun, dari sisi konsumen, tentu saja merugikan karena pada saat elpiji 12 Kg habis, ada butane yg tersisa karena daya bakar butane yang lebih rendahΒ dari propane.
"Misalnya dia pakai yang 12 Kg, sisanya 1 Kg. Ini kan merugikan konsumen karena dia bayarnya untuk elpiji ukuran 12 Kg, bukan 11 Kg," ungkapnya.
Menurut dia, perubahan komposisi ini sudah atas persetujuan pemerintah melalui Kementerian ESDM. Namun hal ini tidak disampaikan ke publik.
"Kalau ada perubahan itu harusnya disampaikan ke masyarakat. Kalau tidak kan itu sama saja dengan melanggar Undang-undang keterbukaan informasi," katanya.
Sementara Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai Pertamina telah melakukan pembohongan publik, jika benar terbukti telah mengubah mengubah komposisi butane dan propane dalam elpiji 12 kilogram.
"Harusnya kalau ada perubahan itu diinfokan ke konsumen. Kalau tidak ituΒ sama saja dengan pembohongan publik. Konsumenkan harus tahu kandungan dari setiap barang yang dibeli dan dipakainya," ujar Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi saat berbincang dengan detikFinance, Mingg umalam (26/9/2010).
Perubahan komposisi tersebut, lanjut Tulus, dikhawatirkan bisa menurunkan tingkat kualitas dan efisiensi dari produk itu.
"Kelebihan elpiji itu kan karena apinya warna biru. Api biru ini lebih efisien jika dibandingkan dengan yang api berwarna merah. Lagipula itu bisa rusak peralatan masak," jelasnya.
Untuk itu, ia mendesak pemerintah dan Pertamina secara terbuka menyampaikan kepada masyarakat.
"Itu lebih fair. Biar masyarakat bisa tentukan pilih elpiji 12 Kg atau yang lain," tambahnya.
Berdasarkan data badan reserse kriminal (Bareskrim) Mabes Polri sepanjang tahun 2007 hingga Juni 2010 telah terjadi kecelakaan dan kebakaran karena penggunaan elpiji sebanyak 76 kasus. Di mana 10 kasus terjadi di tahun 2007, 11 kasus pada 2008, 17 kasus sepanjang tahun 2009 dan 38 kasus hingga pertengahan tahun ini. Dari 76 kasus tersebut, 54 kasus terjadi dari penggunaan elpiji 12 Kg dan 21 kasus untuk elpiji 3 Kg.
(epi/qom)











































