Demikian disampaikan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh usai membuka acara Lokakarya Bahaya Geologi Pembangunan Jembatan Selat Sunda di Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (30/9/2010).
"Saya kira Kementerian ESDM dalam hal ini, pada posisi mempersiapkan informasi mendasar tentang kegeologian khususnya yang menyangkut bahaya-bahaya yang mungkin timbul dan ini juga dialami oleh negara lain yang akan membangun jembatan-jembatan darat antar pulau," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi saya optimistis ini harus dibangun dengan mencermati bahaya yang ada itu," jelasnya.
Hal ini diamini oleh Kepala Badan Geologi, R Sukyar. Menurut dia, lokakarya yang dihadiri para ahli geologi ini ditujukan untuk mengkaji potensi bahaya-bahaya geologi yang mengancam wilayah tersebut sehingga dapat memberikan masukan terhadap rencana pembangunan jembatan sepanjang 30 kilometer tersebut.
"Para ahli akan berkumpul untuk mengkaji potensi tsunami, gempa dan gunung api di lokasi pembangunan Jembatan Selat Sunda itu. Seberapa jauh ancaman potensi bahaya itu terhadap rencana ini? Itu akan dibicarakan," ujar Sukyar.
Ia memaparkan, secara geografis terletak di antara Pulau Sumatera dan Pulau Jawa berupa laut dengan kedalaman maksimum kurang lebih 150 meter, mempunyai lebar sekitar 30 kilometer. Secara administratif kawasan ini merupakan bagian dari provinsi Lampung dan Banten.
Selat Sunda sendiri dikontrol oleh sistem geotektonik busur Sunda pada zona peralihan tunjaman asimetri miring Sumatera dan tunjaman asimetri tegak Jawa.
"Kondisi tektonik ini menyebabkan Selat Sunda memiliki potensi bahaya guncangan gempa bumi, letusan gunung api, landaian gerakan tanah, dan tsunami," jelasnya.
Menurut dia, bahaya gempa bumi tektonik di kawasan ini terjadi akibat tumbukan lempeng pada zona tunjaman yang berada pada radius 500 km dari wilayah tapak pembangunan jembatan.
"Gempa bumi zona tunjaman ini dapat mempunyai kekuatan maksimum lebih besar 8 pada skala richter," ungkapnya.
Selain akibat tunjaman lempeng, ia menilai, gempa bumi di kawasan ini dapat berasal dari aktivitas patahan aktif.
Tiga patahan aktif regional yang terletak pada radius lebih kecil dari 50 km di daratan Sumatera dan dasar Selat Sunda yakni patahan aktif teluk Lampung, patahan aktif Panaitan-Rajabasa dan patahan aktif Banten.
"Itu semua harus dibicarakan. Kendala-kendala itu juga harus diperhitungkan sehingga membutuhkan kontruksi khusus dalam pembangunannya," jelasnya.
(epi/dnl)











































