Anggota Komisi VI DPR, Abdul Wahid menilai, kecelakaan yang terjadi di dekat Stasiun Petarukan, Pemalang menjadi bukti nyata tidak profesionalnya manajemen PT Kereta Api dalam mengelola jenis transportasi massa ini. Untuk itulah DPR perlu memanggil pihak-pihak yang bertanggung jawab.
"Saya tadi sudah telepon-teleponan dengan Ketua Komisi (Airlangga Hartanto) untuk dipanggil. Menterinya, juga Dirutnya," ungkap Abdul Wahid kepada detikFinance, di Jakarta, Minggu (3/10/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kereta Api di Indonesia itu bukan semakin cepat, malah semakin lambat. Dulu Jakarta Semarang 5 jam, sekarang 7 jam. Ke Surabaya yang biasanya 11 jam, ini malah mencapai 14 jam,"ungkapnya.
Ketidakprofesionalan KAI dalam menjalankan industri ini, lanjut Wahid, terlihat pada pelayanan yang buruk, kesiapan yang berantakan serta ketidaknyamanan penggunanya.
"Padahal anggaran untuk maintenance (perawatan) ada, kok ini (realisasi) tidak ada," paparnya.
Seperti diketahui, pada Sabtu (2/10/2010) kemarin telah terjadi kecelakaan maut ini terjadi pukul 03.00 WIB dini hari, tepat 500 meter sebelum kedua kereta memasuki Stasiun Petarukan, Pemalang.
KA Senja Utama ke arah Semarang yang tengah menunggu disalip, justru diseruduk sangat keras dari belakang oleh KA Argo Angggrek jurusan Surabaya.
Dugaan sementara, kejadian tersebut disebabkan kelalaian masinis KA Argo Anggrek yang tidak menggubris sinyal dari Kepala Stasiun KA terdekat. Akibatnya, KA Argo Anggrek salah jalur dan menghantam KA Senja Utama di jalur 3 Stasiun Petarukan.
Namun pihak KAI belum dapat menegaskan hal tersebut. "Kita belum sampai ke sana, karena kita baru selesai evekuasi. Belum sampai ke SDM," imbuh Kepala Humas KAI Sugeng Priyono.
(wep/epi)











































