PLN: Banyak Negara Maju Pakai Batubara Tapi Tak Diprotes Greenpeace

PLN: Banyak Negara Maju Pakai Batubara Tapi Tak Diprotes Greenpeace

- detikFinance
Rabu, 20 Okt 2010 12:02 WIB
Jakarta - PT PLN (Persero) heran dengan protes yang dilakukan Greenpeace terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Padahal banyak negara maju yang mengoperasikan lebih banyak PLTU dibanding Indonesia namun tak diprotes.

"Saat ini PLTU batubara yang jauh lebih banyak dan lebih besar kapasitasnya beroperasi di negara yang sangat ketat mengelola lingkungan seperti Jepang, Korea, negara-negara Eropa apalagi Amerika serta negara-negara lain yang juga banyak menggunakan batubara indonesia dan sejauh ini tidak ada laporan atau info seperti yang disampaikan Greenpeace," tutur Direktur Perencanaan dan Teknologi Strategis PLN, Nasri Sebayang kepada detikFinance, Rabu (20/10/2010).

Nasri mengatakan, dalam membangun pembangkit listrik jenis apapun termasuk batubara, PLN harus memenuhi standar kelayakan lingkungan yang berlaku baik secara nasional maupun internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Standar ini tentu untuk menjaga agar tidak terjadi dampak negatif akibat pengoperasian PLTU. Selain itu sekarang juga sudah berkembang pesat penggunaan clean coal technology," ucapnya.

Greenpeace sebelumnya mendesak pemerintah membatalkan pembangunan PLTU. Desakan itu disampaikan bersamaan dengan peluncuran laporan "Batubara mematikan: Biaya tinggi untuk batubara murah, bagaimana rakyat Indonesia membayar mahal untuk bahanbakar terkotor di dunia."

Bersamaan dengan peluncuran laporan tersebut, para nelayan dari desa Waruwudur bersama dengan para aktivis Greenpeace melumuri diri mereka dengan debu 'batubara', membentangkan spanduk bertuliskan 'batubara mematikan' di atas perahu-perahu nelayan di depan PLTU bertenaga batubara di Cirebon.

"Polusi udara dari pembakaran batubara merusak mata pencaharian, menurunkan panen dan memberi dampak buruk pada tangkapan ikan dan secara perlahan membunuh masyarakat. Batubara adalah kutukan bagi masyarakat yang tinggal di sekitar tambang batubara dan di bawah bayang-bayang PLTU bertenaga batubara. Membakar batubara juga mempercepat perubahan iklim yang akan berdampak pada masyarakat seluruh negeri. Indonesia adalah termasuk negara yang paling rentan dan yang paling tidak siap dalam menghadapi perubahan iklim," kata Arif Fiyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara.

Indonesia saat ini merupakan negara produsen batubara terbesar kelima di dunia dan merupakan eksportir  batubara kedua terbesar di dunia. Greenpeace menyebutkan, bukti-bukti kuat akibat serius dari penggunaan batubara jelas terlihat pada provinsi-provinsi penghasil batubara di Indonesia.

Saat ini, Indonesia berencana untuk meningkatkan pembangkitan listrik dari batubara sebesar 34,4% pada tahun 2025. Rencana ini adalah bagian dari usaha mengurangi penggunaan minyak bumi dan bergeser ke batubara dan gas, dengan target 10.000 MW dari batubara.

Tapi melalui program awal yang seharusnya dicapai pada tahun 2009 dengan rampungnya 35 PLTU bertenaga batubara - 10 diantaranya di Pulau Jawa, dan selebihnya di pulau-pulau lain - kurang dari 60% dari target ini telah tercapai.
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads