Demikian disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM, Evita Herawati Legowo usai menghadiri acara pembukaan Indo Oil and Gas Expo 2010, di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (3/11/2010).
"Iya. Alokasi itu sudah disetujui Pak Menteri. Itu yang sudah optimal," ujar Evita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Donggi Senoro sudah sampai kepada harganya seperti apa. Kita sedang evaluasi mengenai harganya untuk masing-masing pembeli," katanya.
Namun sayangnya, Evita enggan menyebutkan berapa harga penjualan gas dari lapangan yang berada di Sulawesi Tengah tersebut. "Belum bisa saya disampaikan karena masih dievaluasi," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala BP Migas R Priyono merekomendasikan agar 300 billion british thermal unit per day (BBTUD) atau 72% gas dari lapangan Senoro dan Matindok untuk diekspor.
"Untuk domestik sekitar 28%, sementara sisanya diekspor," ujar Priyono.
Berdasarkan rekomendasi yang diberikannya kepada Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh, Priyono mengusulkan agar PT PLN (Persero) mendapatkan jatah sebesar 60 BBTUD, PT Panca Amara Utama (PAU) sebesar 55 BBTUD, dan PT Donggi Senoro LNG (DS LNG) sebesar 300 BBTUD dari total produksi lapangan yang berada di Sulawesi Tenggara tersebut sekitar 415 BBTUD.
Konsorsium Donggi Senoro LNG telah mengantongi tiga calon pembeli gas yang akan dihasilkan dari lapangan Senoro Matindok tersebut. Ketiga calon pembeli tersebut yaitu Kyushu Electric Power Co Inc, Korean Gas Corp (Kogas), dan Chubu Electric Power.
(epi/dnl)











































