Demikian disampaikan Pemimpin Bank Indonesia Denpasar Jeffrey Kairupan pada Seminar dan Pelatihan Ekspo-Impor Bali di Hotel Sanur Paradise, Sanur, Denpasar, Selasa (9/11/2010).
Jeffrey mengatakan ekspor nonmigas, baik barang dan jasa merupakan pendapatan yang penting di Bali. Disebutkan, ekspor nonmigas berkontribusi sebesar 25 persaen dari perekonomian Bali. Secara nasional, share ekspor nonmigas Bali cenderung stagnan, berkisar sebesar 0.5-0.7 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jeffrey menilai terdapat beberapa tantangan yang menyebabkan ekspor nonmigas kalah bersaing karena Bali belum memiliki pelabuhan ekspor impor. "Barang harus diekspor dari pelabuahn ekspor di luar Bali sehingga menambah biaya pengiriman. Hal ini menyebabkan komoditas ekspor nonmigas Bali kalah bersaing dengan harga barang sejenis dari negara pesaing lainnya," katanya.
Hambatan lainnya yang menyebabkan ekspor Bali kalah bersaing adalah tarif barrier dan hambatan birokrasi. "Tarif barrier, baik tarif ekspor dan impor makin memberatkan eksportir dan importir. Hambatan perizinan menyebabkan inefisiensi dalam proses ekspor dan impor," kata Jeffrey.
Komoditas unggulan ekspor nonmigas andalan Bali berupa ekspor pakaian jadi, ikan tuna,Β kerajinan kayu serta perak, dan seni, berupa lukisan. Tujuan ekspor Bali terbesar ke negara Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan Hongkong.
Kelemahan daya saing ekspor Bali akibat tidak memiliki pelabuhan diakui oleh Asisten II Pemprov Bali Ketut Wija. Selama ini, ekspor dan impor Bali melalui pelabuhan Tajung Perak, Surabaya sehingga menambah biaya nilai ekspor.
Dulu, ekspor dan impor Bali melalui Pelabuhan Benoa. Namun, fungsi pelabuhan di Denpasar ini telah diubah dari pelabuhan ekpor menjadi pelabuhan pariwisata.
"Membangun pelabuhan ekspor merupakan kebijakan nasional. Membangunnya pun tidak mudah karena harus memiliki ijin dan perjanjian internasional," katanya.
(gds/qom)











































