Hal ini disampaikan oleh VP Komunikasi PT Pertamina (Persero) M. Harun disela-sela acara Seminar Implikasi atas Penataan Ulang Distribusi BBM Subsidi dan Non-Subsidi, di Hotel Millenium, Jakarta, Kamis (18/11/2010).
"Hari ini masih belum (habis kuota), sisa 6-7% kita hemat saja. Solar pertengahan November sudah habis, premium awal Desember sudah habis," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hingga sampai saat ini belum ada kepastian dari BPH Migas, kita hanya diminta melakukan penghematan (premium)," katanya.
Ia mengharapkan minggu-minggu ini pihak Pertamina mendapat kepastian soal penambahan kuota BBM bersubsidi. Mengingat Pertamina, lanjut Harun, sebagai BUMN harus tetap menyediakan BBM yang dibutuhkan masyarakat.
"Tanpa ada kuota menyulitkan kita. Masih untung Indonesia mempunyai Pertamina, kita berani keluarkan duluan, kita berkorban. Kami berani menambah suplai ke masyarakat urusan belakangan untuk memenuhi pasokan BBM ke masyarakat," katanya.
Padahal kata dia, masalah kekurangan kuota BBM subsidi ini sudah dilaporkan semester pertama sejak pertengahan tahun 2010 ke BPH Migas. Pihaknya hanya mendapat perintah dari BPH Migas melakukan penghematan, itu dilakukan secara informal melalui pesan singkat (SMS).
"Sedangkan kita sudah mengajuka secara resmi melalui surat, sudah dua bulan lalu tapi tak pernah dibalas," katanya.
Menurut hitungan BPH Migas proyeksi konsumsi BBM bersubsidi sampai akhir tahun akan menembus 40,1 juta KL mencakup 13,1 juta KL solar, 3,8 juta KL karosene dan 23,2 juta KL premium. Sementara alokasi kuota BBM subsidi tahun 2010 berdasarkan APBN totalnya hanya mencapai 36,5 juta KL, meliputi 11,2 juta KL sollar, 3,8 juta KL karosene dan 21,45 juta KL premium.
Berdasarkan data realisasi penyaluran BBM PSO Januari hingga Oktober 2010 yang dilansir BPH Migas adalah:
- Premium: 18.948.335 KL (88,57% APBN)
- Kerosin/minyak tanah: 2.009.770 KL (52,89% APBN)
- Solar: 10.668.196 KL (95,30% APBN).
(hen/qom)











































