Demikian disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Rabu (1/12/2010).
"Ini baru pertama kali di atas US$ 14 miliar," cetus Rusman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rusman menyebutkan nilai ekspor migas pada Oktober 2010 mencapai US$ 2,61 miliar, sedangkan non migas sebesar US$ 11,61 miliar. Total ekspor Indonesia pada Januari-Oktober 2010 mencapai US$ 125,13 miliar. Untuk non migas sebesar US$ 103,4 miliar.
Ekspor tersebesar masih dikuasai bahan bakar mineral, seperti batubara dengan nilai US$ 14,84 miliar dan lemak minyak hewan/nabati dengan nilai US$ 12,14 miliar.
"Keduanya selalu bersaing," jelasnya.
Rusman memperkirakan nilai ekspor Indonesia bisa mencapai US$ 150 miliar jika dalam 2 bulan terakhir yakni November dan Desember 2010 nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 12 miliar-US$ 13 miliar.
Pada Oktober 2010, pangsa pasar ekspor Indonesia terbesar ke Jepang US$ 11,13 miliar, Amerika Serikat US$ 10,9 miliar, China US$ 10,61 miliar. Dimana porsi ketiganya mencapai (33,48%). Kemudian Uni Eropa US$ 13,57 miliar.
"Dalam tiga bulan ini pangsa ekspor Indonesia ke Singapura bergeser karena pangsa ekspor sedang booming di China" imbuh Rusman.
Untuk impor, sepanjang Oktober 2010 nilai impor Indonesia mencapai US$ 12,15 miliar atau naik 28,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor migas mencapai US$ 2,38 miliar, dan non migas US$ 9,76 miliar.
Sepanjang Januari-Oktober 2010 total nilai impor Indonesia mencapai US$ 109,54 miliar. Pangsa pasar impor Indonesia adalah China US$ 15,91 miliar, Jepang US$ 13,82 miliar, dan Singapura US$ 8,27 miliar.
"Jadi nilai neraca perdagangan Indonesia pada Oktober surplus 2,07 miliar walaupun pertumbuhan impor lebih tinggi dari ekspor, sementara kumulatif US$ 15,6 miliar," tukas Rusman. (dnl/qom)











































