"Kita juga sudah mulai mem-promote untuk revitalisasi 8 SPBG di Jakarta. Kawan-kawan di hulu sudah siap memasok gas jika diperlukan," ujar VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun disela-sela peluncuran Pertamax Racing di Sentul, Jawa Barat, Minggu (5/12/2010).
Ia menjelaskan, sebagian SPBG di Jakarta memang telah ditutup karena tidak ekonomis dan sebagian ada yang didirikan di jalur hijau. Jumlah SPBG di Jakarta kini hanya tersisa 6.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertamina berharap moda transportasi lain bisa menggunakan BBG karena harganya yang lebih murah dan kualitasnya yang lebih bagus.
"Seperti kita tahu, angkot, bus umum bisa pakai BBG akan lebih bagus, namun pasti perlu menunggu kebijakan. Padahal kita sudah siap," ungkapnya.
Yang perlu ditetapkan kini adalah untuk harga. Harun meyakini, tanpa subsidi pun pasti pengelola bus TransJakarta bersedia membeli. Dan jika penggunaan BBG bisa dijadikan kebijakan massal, maka dipastikan harganya lebih murah. Harga BBG menurut Harun cukup murah hanya sekitar Rp 3.500 per liter.
"Tidak disubsidi pun TransJakarta mau beli, yang penting ada kebijakan harga yang jelas," tegas Harun.
Pertamina sebenarnya sudah merintis bisnis BBG ini sejak tahun 1982. Namun menurut Harun, tanpa ada kebijakan yang jelas dan konsisten SPBG-SPBG itu pun nantinya bisa mati.
"Makanya sekarang mulai revitalisasi di lapangan untuk SPBG, kalau ini dilakukan nggak usah dibatasi juga orang mulai kesitu, apalagi kalau dikasi insentif. Misalnya converter kit-nya dimurahin, atau harga dan pajak dikurangi, orang akan kesitu," imbuhnya.
(qom/qom)











































