Hal ini disampaikan oleh Direktur Pemasaran Pertamina Djaelani Sutomo dalam rapat dengan Komisi VI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (6/12/2010).
"Kalau solar, di Indonesia Rp 4.500 per liter, sementara di Singapura Rp 8.429 per liter," ujar Djaelani.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan harga yang jauh ini juga menjadi alasan sering terjadinya penyelundupan BBM bersubsidi lewat jalur laut.
Padahal masih banyak masyarakat yang lebih membutuhkan subsidi tersebut. Karena itulah pemerintah melakukan program pembatasan konsumsi BBM bersubsidi mulai 1 Januari 2011.
Selain itu, Djaelani mengatakan, Pertamina juga siap untuk menyediakan premium non subsidi beroktan 90 jika harga minyak dunia turun.
"Wacana tersebut dapat direalisasikan jika harga minyak dunia turun sehingga dapat mencapai keekonomiannya, namun dengan kondisi saat ini sepertinya tidak memungkinkan. Kecuali mendapatkan subsidi dari pemerintah tapi jadi berkurang subsidinya," tutur Djaelani.
Seperti diketahui, pemerintah menyiapkan 2 opsi untuk mekanisme pengaturan konsumsi BBM bersubsidi pada tahun depan. Opsinya antara larangan menggunakan BBM bersubsidi untuk semua mobil plat hitam atau mobil di atas tahun 2005.
Hal itu dilakukan seiring terus meningkatnya konsumsi BBM akibat meningkatnya pertumbuhan kendaraan. Akibatnya, konsumsi BBM pada tahun 2010 ini saja sudah melebihi jatah APBN.
Untuk tahun ini saja, konsumsi BBM diprediksi melonjak menjadi 38 juta kiloliter, di atas jatah APBN 2010 sebanyak 36,5 juta kiloliter. Tanpa pembatasan BBM bersubsidi pada tahun 2011, konsumsi akan meningkat lagi sebanyak 10%.
(dnl/qom)










































