Perekonomian Asia Timur juga akan melambat karena dikuranginya stimulus fiskal dan monoter di dalam kawasan ini kemungkinan akan membuat pertumbuhan ekonomi di kawasan ini akan menurun tahun depan.
Demikian edisi terbaru laporan Asia Economic Monitor yang diluncurkan ADB, Selasa (7/12/2010). Laporan ini menyampaikan perkiraan tentang pertumbukan ekonomi bagi kawasan Asia Timur yang sedang berkembang, yang terdiri dari 10 negara anggota ASEAN plus Republik Rakyat China, Hong Kong, China, Republik Korea dan Taipei, China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam laporan Perkiraan Perkembangan Ekonomi Asia Yang Diperbarui (Asian Development Outlook Update) pada bulan September, ADB memperkirakan perekonomian kawasan ini akan tumbuh 8,4% tahun ini setelah mencapai pertumbuhan sebesar 5,4% pada tahun 2009.
ADB menjelaskan, perkiraan pertumbuhan pada tahun 2010 yang diubah menjadi lebih tinggi ini, sebagian besar dikarenakan lebih tingginya pertumbuhan di Republik Rakyat China dari perkiraan semula yang diperkirakan oleh ADB akan mencapai 10,1% pada tahun ini.
Angka ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 9,6% pada bulan September. ADB masih mengharapkan ekonomi Republik Rakyat Cina akan tumbuh sebesar 9,1% pada 2011.
Mengenai kinerja keseluruhan kawasan Asia yang sedang berkembang, yakni 45 perekonomian yang sedang berkembang di Asia Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara dan Pasifik, ADB menaikkan perkiraan pertumbuhan kawasan ini menjadi 8,6% dari angka 8,2% pada perkiraan di bulan September. Perkiraan untuk pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang di tahun 2011 masih 7,3%.
Pertumbuhan di Asia Tengah sekarang diperkirakan akan mencapai 5,9% pada tahun ini dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya sebesar 5,1%. ADB memperkirakan perekonomian di Asia Selatan akan tumbuh sebesar 7,8% pada 2010 dimana India diperkirakan akan tumbuh sebesar 8,5% tahun ini. Perkiraan pertumbuhan ekonomi di kawasan Pasifik tetap sebesar 4,3% pada tahun 2010.
"Pemulihan ekonomi berbentuk huruf V terjadi di kawasan Asia Timur yang sedang berkembang, dan tantangan bagi kawasan ini adalah menerapkan kebijakan nasional yang akan mengubah pemulihan ekonomi yang cepat ini menjadi pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang," ujar Iwan Azis, Kepala Kantor Kerja Sama Dan Integrasi Ekonomi ADB (OREI) yang menyiapkan laporan ini.
Ia menjelaskan, risiko yang mungkin timbul di kawasan ini lebih tinggi dari perkiraan enam bulan lalu. Tantangan kebijakan yang berasal dari lambatnya pemulihan di negara-negara ekonomi maju, arus modal masuk, inflasi dan bubble harga yang berpontensi menimbulkan ketidakstabilan dan proteksionisme.
(qom/qom)











































