Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui penerimaan negara sebenarnya bisa digenjot melalui kenaikan cukai rokok dibandingkan dengan melakukan penghematan BBM bersubsidi.
"Betul, tahun lalu kita bisa dapat Rp 50 triliun. Tahun ini bisa Rp 60 triliun dan akan kita tingkatkan lagi," ujarnya menanggapi pertanyaan anggota Komisi VII dari F-PDIP Dewi Aryani Hilman yang merekomendasikan pengoptimalan cukai rokok karena hasilnya akan lebih besar dibandingkan penghematan BBM di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (13/12/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan Rp 10 triliun bisa kita lakukan karena industri rokok menimbulkan bahaya bagi manusia, tetapi industri kebetulan bukan hanya menyumbangkan Rp 60 triliun tetapi jumlah pabrik yang ada, ada 1992 pabrik baik golongan I, II, III dan 5-6 juta tenaga kerja yang diserap dari industri ini," ujarnya.
Untuk itu, terkait kebijakan kenaikan cukai, Agus menyatakan perlunya kehati-hatian agar tidak merugikan pihak industri dan tenaga kerja tetapi juga tidak membahayakan generasi muda.
"Kita akan hati-hati supaya tidak jadi sinyal menginginkan generasi muda menikmati produk yang terkait dengan tembakau," tandasnya.
(nia/dnl)










































