"Tahun 2011 memang akan ada ancaman kenaikan beras yang berlanjut, malah prediksi internasional naiknya bisa dua kali lipat," ungkap Kepala BPS Rusman Heriawan dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Dr. Soetomo, Jakarta, Senin (3/1/2011).
Rusman menilai kenaikan tersebut sehubungan dengan pengetatan ekspor beras oleh Thailand dan Vietnam. Seperti diketahui, kedua negara tersebut merupakan eksportir beras terbesar di dunia.Β Β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai solusi, Rusman menyatakan, pemerintah harus mengendalikan harga dengan menggenjot produksi beras lokal serta memberikan fasilitas tambahan kepada petani.Β
"Kita harus manjakan petani akan bergairah untuk menanam beras. Saat ini harga beras nasional selalu lebih tinggi dari beras internaisonal kalau impor dalam jumlah yang sama tentu tidak akan membantu impor dari luar negeri itu. Itu satu-satunya cara untuk tingkatkan produksi beras tahun 2011," ujarnya.
Dengan begitu, Rusman berharap pada tahun ini inflasi bisa tetap sesuai target yang ditentukan dalam APBN 2011 yaiitu 5,3%.
"Itu kan harapannya jangan sampai melebihi itu mari kita perangi musuh bersama. Yang namanya inflasi jangan apriori melihat inflasi tinggi itu menandakan semuanya buruk, inflasi tinggi bisa juga menunjukan gairah ekonomi yang tinggi harga 2010 dan 2011 diperkirakan akan naik karena ada recovery di internaisonal," ujarnya.
Menurut Rusman, apabila pertumbuhan ditargetkan sebesar 7% maka tidak mungkin inflasi inflasi lebih rendah sekitar 2-3%.
"Kalau mau pertumbuhan 7 persen, tidak mungkin inflasi 2-3 persen. Saya tidak mengatakaan 5,3 persen itu tidak rasional, tapi tetap harus kita jaga. Mudah-mudahan tidak sampai 6 persen," imbuhnya.
(nia/qom)











































