"Secara singkat kami kalah di persaingan, apakah (penjualan) agen atau internet, yang intinya kalah bersaing yang mengakibatkan kami mengalami kerugian cukup lama," kata Direktur Utama PT Mandala Airlines Diono Nurjadin di acara RDP dengan Komisi V DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (19/1/2011).
Dikatakannya secara komersil, manajemen Mandala menjalani strategi yang kurang tepat sehingga takΒ bisa menghasilkan profit. Setelah ini, pihaknya memastikan akan melakukan perubahan strategi bisnis termasuk membicarakannya dan meminta persetujuan investor baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masalah kesulitan keuangan Mandala, berawal ketika pemegang saham memutuskan untuk menetapkan Mandala sebagai maskapai berbiaya murah atau low cost carrier (LCC). Namun kenyataannya Mandala banyak menggunakan pesawat baru dengan biaya sewa yang tinggi.
Diono menambahkan mengenai informasi penghentian operasi Mandala, baru diberitahukan ke pihak Kementerian Perhubungan atau regulator dua hari sebelum penghentian operasi (13 Januari 2011). Pemberitahuan dilakukan secara lisan kepada Ditjen Perhubungan Udara dan Menteri Perhubungan.
"Kami melaporkan secara lisan dua hari sebelum penghentian operasi dan dilanjutkan surat resmi. Pada satu hari sebelum berhenti operasi, kami sudah mengurangi penjualan tiket," jelas Diono.
Ia juga mengakui pada 10 Januari 2011 pada saat manajemen Mandala melaporkan kegiatan rutin bulanan ke regulator, pihaknya belum melaporkan soal penghentian operasi Mandala tersebut.
"Memang kami melakukan keputusan mendadak setelah ada pembahasan para pemegang sajam di awal minggu lalu," katanya.
(hen/dnl)











































