"Sesuai dengan data yang waktu kami melakukan pendaftaran di PKPU (penundaan kewajiban pembayaran utang) datanya itu Rp 850 miliar," kata Direktur Utama Mandala Diono Nurjadin kepada detikFinance di kantornya, Jakarta, Rabu (2/2/2011).
Diono menjelaskan dari total aset yang dimiliki Mandala terbagi beberapa katagori yaitu aset riil antara lain gedung Kantor Pusat Mandala, Tanah di Rawa Bokor Cengkareng, dan beberapa kantor termasuk tanah beberapa perwakilan di luar Jakarta. Selain itu Mandala mengaku masih punya spare part dari pesawat Boeing 737 yang sebelumnya digunakan oleh perseroan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini kata dia ada beberapa aset yang masuk katagori tak bisa dilihat antara lain deposit atau uang jaminan kepada lessor (penyewa pesawat) dengan nilai kurang lebih Rp 200 miliar.
Dana ini sengaja dipegang oleh lessor sebagai dana jaminan untuk perawatan pesawat ketika pesawat dikembalikan sesuai dengan kondisi saat menyewa.
"Itu nggak bisa dicairkan karena pesawat itu sudah dikembalikan, waktu dikembalikan pesawat itu harus dikembalikan pada kondisi awal," jelas Diono.
Diono menambahkan aset lainnya yang dihitung Mandala adalah berasal dari kredit tax, sebagai imbas kerugian yang dialami Mandala selama 3-4 tahun terakhir ini. Artinya ketika Mandala merugi maka tak membayarkan pajak penghasilan (PPh) badan dari pendapatan bersih perseroan.
"Kalau loss kan nggak ada beban pajak, itu dihitung sebagai aset juga, kalau loss semua perusahaan begitu totalnya, totalnya Rp 230 miliar," katanya.
Dikatakannya selain beberapa aset tadi, ada beberapa deposit di mana pihak Mandala menempatkan deposit di beberapa pihak untuk menyewa, di luar dari menyewa pesawat.
"Kenapa aset riil Mandala kecil, karena bisnisnya Mandala itu strategi kita punya sewa aset dari pada beli aset. Aset (riil) yang kita miliki adalah aset Mandala waktu di-take over dari pemegang saham lama seperti gedung, tanah, dan aset lainnya," ujarnya.
Strategi semacam itu, lanjut Diono, lumrah dilakukan juga oleh maskapai lainnya di dalam maupun luar negeri. Aset yang terbesar bagi maskapai adalah pesawat sehingga maskapai lebih memilih menyewa terutama bagi maskapai yang belum lama beroperasi.
Pilihannya bagi maskapai lebih baik sewa daripada membeli pesawat, sampai menunggu omzet dan volume cukup besar sehingga bisa melakukan pembelian pesawat sendiri.
"Aset riil yang Rp 110 miliar itu kan masih terus diverifikasi, itu pasti akan bertambah. Saya kira nggak banyak," katanya.
(hen/dnl)










































