'Digoyang' Cuaca Ekstrem Jawa Tengah Tetap Surplus Beras

'Digoyang' Cuaca Ekstrem Jawa Tengah Tetap Surplus Beras

- detikFinance
Kamis, 24 Feb 2011 19:29 WIB
Jakarta - Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini sama sekali tidak  berpengaruh terhadap gelar surplus beras yang disandang wilayah  Jawa Tengah. Kawasan Jawa Tengah justru melakukan perluasan lahan sehingga produksi padi semakin meningkat.

Hal ini disampaikan oleh Gubernur Jateng Bibit Waluyo saat  membuka acara Festival Holtikutura Jateng 2011 di Sub Terminal Agro
(STA) Desa Suropadan, Kecamatan Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah  Kamis (24/2/2011).

“Cuaca ekstrem saat ini memang sangat mempengaruhi kondisi tanaman. Tetapi tidak sampai membuat turunnya produksi tanaman padi dalam hal ini
beras secara drastis. Untuk itu kondisi cuaca ekstrem jangan diresahkan  malah justru harus disiasati,” kata Bibit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bibit menjelaskan cuaca ekstrim membawa dua aspek positif dan negatif.  Positif bagi petani yang mempunyai sawah tadah hujan dan negatif bagi
yang memiliki lahan dengan irigasi normal.

“Kalau sawah tadah hujan bisa dapat pengairan. Tetapi yang harus bekerja  keras yang sawah dengan sistim irigasi normal,” ungkap Bibit.

Bibit menambahkan teknik agar cuaca ekstrem  tak berdampak pada sawah diserang hama wereng, petani harus bekerja keras mengantisipasinya.

“Kalau malam disediakan lampu petromax atau senter. Nanti werengnya akan menempel ke lampu dan mati. Kalau siang giat mengulak alik tanah
disekitar padi jadi telur-telur wereng akan hancur saat dibolak balik  tanahnya. Itu seperti yang saya lakukan pada sawah saya di Delangu dan
berhasil panen,”jelas Bibit.

Kepala Dinas Pertanian Jateng Aris Budiono menyatakan tidak berpengaruhnya cuaca akestrem karena adanya pertambahan lahan di wilayah
Jateng.

“Pada tahun 2010 lahan persawahan hanya sekitar 1,790 juta hektar namun pada tahun 2011 ini bertambah menjadi sekitar 1,85 juta hektar. Sehingga
surplus padi dipastikan tidak akan menurun saat panen,”jelas Aris.

Hasilnya produksi beras Jawa Tengah meningkat secara bertahap dari surplus yang  semula. Menurut data dari BPS Jateng, tahun 2010 adas ebanyak 10,7 ton
gabah kering giling( GKG) yang dihasilkan dari tanah seluas 1,790 hektar itu.

“Ditahun 2011 sampai kuartal pertama bulan ini 10,110 juta GKG,”tukas Aris.

Soal serangan hama yang riskan dimusim cuaca ekstrem ini, Aris  menjelaskan selama tahun 2010 hanya terjadi serangan hama sebesar 0,02% dari total lahan pada saat itu.

“Ditahun 2011 ini data terakhir hanya ada dua daerah yang terserang  yaitu di Kabupaten Grobogan (103 hektar) dan di Kabupaten Banyumas (4,9
hektar) saja,” tambah Aris.

Untuk mengantisipasi serangan hama wereng ini, Pemerintah Propinsi  Jateng menghimbau kepada jutaan petani untuk mewaspadainya.

“Harus ada deteksi dini. Kalau sudah ada tanda-tanda diserang wereng, laporkan saja kepada kami. Kami sudah ada sekitar 443 tenaga ahli serta penyuluh tentang penanganan hama wereng,” tukas Aris.
(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads