BPS: Ekspor RI di Januari Capai US$ 14,45 Miliar

BPS: Ekspor RI di Januari Capai US$ 14,45 Miliar

- detikFinance
Selasa, 01 Mar 2011 12:23 WIB
Jakarta - Nilai ekspor Indonesia di Januari 2011 mencapai US$ 14,45 miliar naik 24,65% dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun pertumbuhan impor juga tak kalah kencang di Januari.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jalan DR Soetomo, Jakarta, Selasa (1/3/2011).

Menurutnya jika dibanding Desember 2010, nilai ekspor menunjukkan penurunan 14,11%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Memang tidak kejutan jika Januari lebih rendah daripada bulan Desember. Itu hak yang siklusnya seperti itu, no wonder," ujar Rusman.

Meski surplus, laju impor Indonesia lebih cepat dibandingkan laju ekspor pada bulan Januari.

Rusman memaparkan ekspor migas di Januari ini mencapai US$ 2,52 miliar, sedangkan ekspor non migas capai US$ 11,94 miliar. Ekspor non migas tertinggi disumbang oleh ekspor bahan bakar mineral senilai US$ 1,82 miliar dan CPO atau sawit senilai US$ 1,78 miliar.

Negara tujuan ekspor terbesar di Januari adalah Amerika Serikat dengan nilai US$ 1,26 miliar, Jepang US$ 1,21 miliar, dan China US$ 1,15 miliar. Ketiga negara tersebut, sudah mengambil porsi 30,31% bagi ekspor Indonesia. Sedangkan untuk Uni Eropa (27 negara) sebesar US$ 1,76 miliar.

Untuk impor, lanjut Rusman, total impor sepanjang Januari 2011 mencapai US$ 12,55 miliar, naik 32,22% dibandingkan Januari 2010, tetapi turun 4,55% dibandingkan Desember 2010.

"Jadi pertumbuhan impor kencang dibandingkan ekspor," ujarnya.

Nilai impor non migas sebesar US$ 9,58 miliar, sedangkan migas hanya sebesar US$ 2,97 miliar. Untuk barang impor terbesar adalah mesin dan peralatan mekanik sebesar US$ 1,72 miliar serta mesin, dan peralatan listrik sebesar US$ 1,41 miliar.

Negara pengimpor terbesar ke Indonesia adalah China sebesar US$ 1,82 miliar dengan pangsa pasar 18,95%. Lalu Jepang sebesar US$ 1,38 miliar dengan pangsa pasar sebesar 14,4%. Kemudian Singapura sebesar US$ 0,82 miliar dengan pangsa pasar sebesar 8,55%.

Dengan begitu, ujar Rusman, terjadi surplus perdagangan di Januari sebesar US$ 1,91 miliar, dengan defisit migas sebesar US$ 453,6 juta dan non migas surplus US$ 2,359 miliar.

"Defisit migas itu karena BBM karena kapasitas kilang tidak mencukupi untuk BBM jadi harus impor. Memang surplus tapi pertumbuhannya lebih cepat impor dibanding ekspor," tandasnya.
(nia/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads