Padahal ini menjadi kesalahan Bulog yang tak bisa melakukan pendekatan langsung kepada petani. Sedangkan para tengkulak melakukan pendekatan yang lebih progresif kepada petani. Tak jarang tengkulak memberikan uang muka ke petani agar mau menjual gabahnya.
"Bulog kalah cepat," ujar Anggota Komisi IV DPR Zuber Safawi dalam keterangannya, Sabtu (12/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu Bulog didesak mengoptimalkan penyerapan beras melalui kerjasama kemitraan dengan BUMN lain, gabungan kelompok tani, maupun turun langsung ke petani.
Sementara untuk beras impor yang terlanjur distok, Zuber meminta jaminan Bulog beras impor tersebut hanya boleh untuk operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga, dan bukan untuk dikomersialisasi.
DPR juga meminta BUlog untuk menghentikan impor beras, dan target pengadaan beras 3,5 juta ton tahun ini dipenuhi lewat pembelian beras dari petani.
Sebelumnya Pemerintah menetapkan HPP beras di 2011 tetap, artinya mengikuti HPP lama sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7/2009 tentang Kebijakan Perberasan.
Dalam Inpres tersebut, HPP beras adalah Rp 5.060 per kilogram, gabah kering giling (GKG) Rp 3.300 per kilogram, dan gabah kering panen (GKP) Rp 2.640 per kilogram. HPP ini menjadi dasar bagi Bulog dalam melakukan pengadaan yang targetnya adalah 3,5 juta ton beras di 2011.
(dnl/dnl)










































