"Sebaiknya konsentrasi kepada bisnis masing-masing. Banyak upaya yang kita akan lakukan di tahun ini untuk mengembangan Citilink," jelasnya dalam jumpa pers di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (31/3/2011).
Meskipun Citilink tidak memiliki air operator certificate (AOC), dan masih bernaung dalam maskapai Garuda Indonesia, namun Emir berencana menambah 19 pesawat tahun ini khusus pengembangan rute kelas Low Cost Carrier (LCC).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini jumlah armada Citilink yang dioperasikan Garuda sebanyak 6 unit, dari total 10 unit. Sisanya, masih belum beroperasi karena tahap perawatan. Keberadaan Citilink sendiri merupakan strategi perseroan dalam memanfaatkan peluang pada pasar LCC.
"LCC kita akan perbaharui, dari 150 sheet menjadi 180 sheet. Pada bulan April kita akan tender," ucap Emir.
Sebelumnya Direktur Utama Merpati Sardjono Jhony Tjitrokusumo menegaskan, sebaiknya Citilink ditiadakan saja. Alasannya, Citilink, merupakan pesawat terbang untuk penumpang kelas menengah bawah milik Garuda. Citilink bukan merupakan maskapai penerbangan, karena tidak memiliki air operator certificate (AOC)
"Sekarang ngapainlah udah ada Merpati. Kenapa Merpati diunyeng-unyeng (diganggu), toh juga sama-sama punya pemerintah. Uangnya juga nanti diserahkan kepada pemerintah," jelasnya.
Emir justru ingin menagih utang Merpati kepada GIAA yang belum dibayar. "Merpati malah utang ke kita Rp 300 miliar. Kita sudah minta untuk segera dibayar. Mungkin ada mekanisme debt restructuring," imbuh Emir.
(wep/dnl)










































