Biang Kerok Untung KAI Menyusut Tajam

Biang Kerok Untung KAI Menyusut Tajam

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 03 Agu 2026 06:30 WIB
Presiden Prabowo Subianto menjajal kereta api mewah KA Nusantara Explorer dari Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
KAI/Foto: Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden
Jakarta -

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mengalami penurunan laba cukup tajam pada paruh pertama tahun ini. Perusahaan membukukan laba sebelum pajak sebesar Rp 842,69 miliar dan laba tahun berjalan sebesar Rp 314,03 miliar di semester I-2026.

Dalam laporan keuangan KAI Group (unaudited) disebutkan angka tersebut turun dalam jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, laba sebelum pajak tercatat Rp 1,86 triliun dan laba tahun berjalan sebesar Rp 1,18 triliun.

Di sisi lain, pendapatan perusahaan mengalami peningkatan pada semester I-2026. KAI mencatat pendapatan sebesar Rp 17,96 triliun meningkat 6,6% dibanding periode yang sama tahun lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pertumbuhan pendapatan menjadi modal penting bagi KAI untuk menjaga keselamatan perjalanan, kesiapan sarana dan prasarana, serta kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).

Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba bruto sebesar 18,81%, dari Rp 5,72 triliun pada semester I 2025 menjadi Rp 6,79 triliun pada semester I 2026. Pada periode yang sama, laba usaha meningkat 25,79%, dari Rp 3,71 triliun menjadi Rp 4,66 triliun.

ADVERTISEMENT

Lebih jauh, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp 104,79 triliun. Total liabilitas mencapai Rp 65,11 triliun, turun dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp 66,14 triliun.

Sementara itu, total ekuitas meningkat dari Rp 39,29 triliun menjadi Rp 39,69 triliun. Pada periode yang sama, utang jangka pendek turun dari Rp 16,20 triliun menjadi Rp 15,17 triliun.

Penyebab Laba Turun

Penurunan laba yang dicatat KAI dipengaruhi oleh peningkatan pencatatan rugi dari perusahaan asosiasi dan usaha patungan, dari Rp 948,20 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp 3,00 triliun pada semester I 2026.

Sebagai informasi, salah satu usaha patungan KAI adalah PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), perusahaan itu merupakan operator Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Pilar Sinergi BUMN Indonesia masih mencatatkan rugi cukup besar hingga Rp 5,13 triliun. Total liabilitas Pilar Sinergi BUMN Indonesia juga tercatat lebih tinggi daripada total asetnya, yakni Rp 21,54 triliun dan Rp 21,52 triliun.

Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Dony Oskaria mengatakan pihaknya masih perlu waktu untuk menyelesaikan masalah yang membebani keuangan KAI. Salah satunya adalah proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan problem-problem yang ada ya. Problem-problem ini kan sudah ada sebelumnya dengan dimensi yang luar biasa besarnya kan. Nah tentu energinya juga terbatas, satu-satu harus diberesin," ujar Dony kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7) yang lalu.

Lihat juga Video 'Viral Bayi Ditemukan di Toilet KA Sancaka Rute Jogja-Surabaya':

Halaman 2 dari 2
(hal/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads