Ketua Gabungan Pengusaha Pakan Ternak (GPMT) Sudirman mengatakan saat ini harga jagung impor sampai ke tangan produsen hanya Rp 3.200 per kg sementara jagung lokal sampai Rp 3.700 per kg.
Selisih harga yang begitu tinggi ini menurutnya karena pedagang perantara terlalu menikmati untung besar sementara petani jagung sebaliknya. Padahal kata dia, harga jagung impor sudah dikenakan bea masuk 5% namun masih tetap lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengharapkan agar pemerintah bisa mengatasi masalah ini, diantaranya dengan membantu pemasaran pasca panen. Selain itu, perlu digalakkan kembali gabungan-gabungan kelompok tani (Gapoktan) dan koporasi.
Menurutnya dengan harga yang wajar para produsen pakan ternak dalam negeri bisa menekan biaya produksi sehingga harga pakan ternak bisa ditekan untuk peternak. Selama ini dari kebutuhan industri pakan ternak 5,5 juta ton jagung per tahun, sebanyak 3,5 juta ton dipenuhi dari dalam negeri dan 1,5 juta ton impor.
Ketua Harian Dewan Jagung Indonesia Anton Supit menambahkan masalah perjagungan di Tanah Air masih berkutat pada produksi yang tak kontinyu sehingga mempengaruhi suplai dan harga. Dewan Jagung bersama kementerian pertanian sedang mencari lokasi sentra-sentra jagung baru seperti Dompu di NTB.
Masalah pasca panen jagung juga menjadi kendala, karena biasanya produksi jagung terjadi dalam skala besar diperiode Januari-Maret. Kondisi ini tak ditopang oleh sistem pergudangan yang baik.
Anton menambahkan seharusnya sebagai negara yang subur dan memiliki lahan pertanian luas, Indonesia bisa swasembada jagung dan mengekspor jagung. Peluang ekspor jagung begitu tinggi, seperti Malaysia membutuhkan impor jagung 3 juta ton, Korea 7 juta ton, Jepang 16 juta ton, bahkan China 1,7 juta ton di tahun lalu.
"Kalau mau menjadi negara pengekspor jagung, tidak bisa mengandalkan sistem produksi sekarang, harus ada corn estate," katanya.
(hen/dnl)











































