Meskipun masih melakukan banyak kajian dan memerhatikan kondisi harga minyak akhir-akhir ini, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menilai kisaran US$ 90-95 per barel sudah merupakan level yang aman.
"Saya kira range itu kalau pun sekarang sudah US$ 113 per barel ya kira-kira US$ 90-95 per barel, tapi sebenarnya receivable kita meningkat karena ditopang oleh gas, tapi jangan lupa pendapatan yang meningkat tidak bisa digunakan untuk sektor produktif seperti infrastruktur karena kita pakai untuk subsidi," ujar Hatta saat ditemui di acara Indonesia International Infrastructure Conference and Exhibition (IIICE) 2011 di Jakarta Convention Center, Senayan, Selasa (12/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau inflasi jangan berspekulasi dengan inflasi karena ada ekspektasi inflasi yang berbahaya jadi tugas Menko bukan meramal inflasi, tapi mengendalikan inflasi," jelasnya.
Sedangkan untuk target pertumbuhan, meskipun banyak pihak yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6,7%, tetapi Hatta menyatakan pemerintah akan menahan pada target awal yaitu sebesar 6,4%.
"Kita biarkan 6,4% kita pruden tidak terlalu konservatif tapi tidak terlalu over optimistik sepeti kita menetapkan 5,8% ternyata 6,1%. Karena walaupun kita 6,4% tapi banyak yang memprediksi lebih dari itu," tandasnya.
(nia/dnl)











































