Konfirmasi soal masuknya Saratoga ke Mandala itu disampaikan pendiri Saratoga, Sandiaga Uno melalui pesan singkatnya kepada detikFinance, Kamis (19/5/2011).
Sandiaga mengatakan, pihaknya bersedia masuk ke sektor penerbangan karena meyakini sektor tersebut bisa tumbuh dengan pesat di Indonesia yang perekonomiannya tumbuh kuat dengan karakteristik kepulauan dan sangat mendukung untuk berkembangnya industri itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabarnya, Saratoga akan menguasai 51% saham Mandala, Tiger Airways 33% dan sisanya sebesar 16% menjadi milik para kreditur Mandala Airlines.
Perihal masuknya investor lokal dan asing ke Mandala itu sebelumnya disampaikan Direktur Jenderal Kementerian Perhubungan Udara (Kemenhub) Herry Bakti.
"Direktur Utama Mandala sudah datang menghadap dimana sudah menyampaikan ada investor dan dia akan announce pada hari Jumat besok," ujar Bambang di Gedung DPR.
Corporate Secretary Mandala, Nurmaria Sarosa saat dihubungi detikFinance mengakui soal masuknya Saratoga tersebut. "Benar, Saratoga Grup menjadi perusahaan lokalnya," ujarnya.
Saratoga Capital didirikan pada 1998 oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga S. Uno. Sebagai salah satu perusahaan ekuitas swasta Saratoga saat ini mempekerjakan lebih dari 20.000 orang melalui perusahaan portofolio dengan lebih dari US $ 2 miliar aset yang dikelola. Kepentingan bisnis perusahaan ini bergerak di sumber daya alam, energi, infrastruktur, telekomunikasi, dan barang-barang konsumen.
Sementara itu investor asing asal Singapura yang bergerak di bidang aviasi yakni Tiger Airways yang 32,9% sahamnya dimiliki oleh Singapore Airlines menguasai 33% saham Mandala.
Tiger Airways Holdings Limited merupakan perusahaan aviasi yang sudah listing lantai bursa di Singapore Exchange (SGX). Perusahaan aviasi ini mempunyai 24 pesawat di Singapura dan Australia berjenis Airbus A320-200 yang menggunakan mesin besutan International Aero Engines (IAE) V2500 dan V2524. Serta 2 pesawat jenis A319.
Sisanya sebesar 16% dilimiki oleh kreditur sesuai konversi saham untuk pembayaran utang dan juga dimiliki pemilik lama.
Seperti diketahui, Mandala memang mencari investor untuk melunasi utang-utang kepada para krediturnya. Jumlah utang Mandala Airlines mencapai Rp 2,45 triliun kepada kreditur konkuren yang jumlahnya ratusan, dan utang ke kreditur separatis yaitu Bank Victoria Rp 54,14 miliar.
Sebelumnya untuk menghindari likuidasi, secara garis besar Mandala mengajukan rencana perdamaian yang mencakup ketiga hal berikut:
- Masuknya investor baru untuk menyuntikkan modal bagi perusahaan.
- Pengajuan konversi sebagian besar utang kreditur konkuren menjadi saham.
- Masuknya pengelola baru untuk memulai kembali operasi perusahaan











































