IMF Tak Beri Nasihat Terbaiknya Saat Bantu RI Keluar Krisis
Rabu, 23 Jun 2004 11:16 WIB
Jakarta -
IMF tidak memberikan nasihat terbaiknya saat membantu Indonesia keluar dari krisis ekonomi terburuknya pada tahun 1997. Demikian sebuah laporan dari kantor penilai independen atau Independen Evaluation Office (IEO) yang merupakan lembaga monitoring IMF.Dalam laporan yang dipublikasikan Rabu (23/6/2004) seperti dilansir Reuters disebutkan, selain kesalahan teknis, IMF juga telah gagal untuk mengerti iklim permasalahan dan membuat kesalahan pada langkah pembuatan kebijakannyaIMF telah memberikan paket bantuannya sebesar US$ 43 miliar agar Indonesia bisa keluar dari krisis ekonomi yang terparah pada tahun 1997. Kerjasama dengan IMF dan Indonesia telah diakhiri pada Nopember 2003. Namun Indonesia tetap melanjutkan dengan post programme monitoring (PPM) dengan sejumlah program yang tertuang dalam white paper yang dibuat pemerintah Indonesia namun tetap direview oleh IMF. PPM ini tidak terkait dengan pencairan dana dari IMF lagi. Dalam laporan IEO itu dikatakan, isi dari program pinjaman IMF didasarkan pada pandangan bahwa situasi Indonesia pada saat itu tidak serius dan dapat dengan mudah dipulihkan. Diprediksikan GDP Indonesia pada tahun 1997 akan tumbuh 5 persen dengan lebih tinggi lagi pada tahun 1998 meskipun GDP turun 13 persen dan krisis keuangan tak terhindarkan.Laporan itu juga menyebutkan, awal dari kesalahan teknis terjadi sebelum IMF datang ke Indonesia saat pemerintah secara tajam mengurangi jumlah uang beredar dan cadangan devisa yang membuat sistem keuangan kekurangan likuiditas. IMF bagaimanapun dinilai gagal untuk menghilangkan kesalahan yang telah dibuat ini saat datang untuk menolong Indonesia."Sangat mengherankan bahwa saat IMF datang dengan skenarionya itu tidak mengidentifikasi kesalahan atas uang beredar yang bisa membawa masalah likuiditas dan yang telah menjadi pokok masalah di sektor keuangan. Bagaimanapun masalah uang beredar dan kesehatan sektor keuangan adalah kompentensi utama IMF," tulis laporan itu. Namun yang dinilai IEO lebih serius lagi adalah masalah salah baca IMF terhadap arus dana atau capital inflow. Dikatakan, besarnya arus dana keluar tak dapat dihindarkan dan ambruknya mata uang, merosotnya GDP dan kolapsnya sektor keuangan dimulai langsung dari masalah ini. Laporan itu juga menyebutkan bahwa IMF tidak didesain untuk menjadi "kaki yang cekatan". Pada krisis, staf IMF membuat kunjungan yang pendek dengan jadwal yang sangat ketat dan harus bertanggng jawab pada laporan yang detail dan terkadang memperoleh intervensi dari seluruh jajaran Dewan IMF di Washington.IMF dinilai IEO telah belajar dari pengalamannya di Indonesia namun pelajaran itu datangnya terlambat untuk menghindari kemerosotan yang cepat pada perekonomian Indonesia pada saat ini.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































