Awalnya pemerintah hanya mengkonfirmasi akan mengimpor 500.000 ton beras. Nah, ternyata Perum Bulog selaku pihak yang diizinkan mengimpor beras, menjalankan silent operation, tujuannya agar langkah impor tidak mengakibatkan harga beras dunia naik.
Hal itu diungkapkan Direktur Utama (dirut) Perum Bulog, Sutarto Alimoeso kepada wartawan seusai acara penandatanganan nota kesepahaman Perum Bulog dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Kantor Pusat UGM, di Bulaksumur, Yogyakarta, Jumat (1/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengatakan bila dilakukan secara tertutup agar tidak mempengaruhi harga beras dunia di pasaran. Namun bila impor beras dilakukan secara terbuka harga beras dunia sudah pasti akan melonjak harganya.
Menurut dia bila dengan cara terbuka kasus pengadaan beras 2 jutan ton di negara Filipina bisa terulang. Pada impor beras pertama sebanyak 200 ribu ton, Filipina harus membayar US$ 400-500/ton. Sedang sisanya Filipina harus membayar US$ 600/ton.
"Dengan cara seperti itu kita bisa beli dengan harga yang tidak terlalu tinggi," katanya.
Dia menambahkan dibandingkan dengan negara Asia lainnya, cadangan beras Indonesia secara keseluruhan masih kalah atau masih kecil jumlahnya. Indonesia dengan negara kepulauan itu, cadangan beras hanya sekitar 150.000 ton. Sedangkan negara China mencapai 34 juta ton. India sebanyak 7 juta ton. Selanjutnya Thailand dan Filipina sekitar 2 juta ton. Jepang, Myanmar, Vietnam sekitar 1 juta ton.
"Indonesia berdasarkan penelitian seharusnya minimum sekitar 500 ribu ton," papar Sutarto.
Pada tahun 2010 lalu kata dia, hanya dua provinsi yakni Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang tidak mendatangkan beras dari luar. Sedangkan pada tahun 2009 atau tahun sebelumnya ada 10 provinsi yang tidak mendatangkan beras dari luar yakni seluruh Pula Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, NTB dan Sulawesi Selatan.
"Tahun ini karena ada faktor perubahan musim dan faktor lain seperti serangan hama juga mengakibatkan adanya pasokan beras dari luar," pungkas dia.
Awal tahun 2011 Perum Bulog telah melakukan pengadaan beras melalui impor sebesar 1,848 juta ton hingga 5 April 2011. Angka tersebut sama dengan 92,51% dari izin impor pemerintah yang dijatahkan hingga 2 juta ton. Diberitakan sebelumnya izin impor beras berakhir tanggal 31 Maret 2011.
(bgs/hen)











































