Demikian disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi VI DPR yang dilakukan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (4/7/2011).
"Jadi, walau sangat dini, mereka (PTDI dan Merpati) sudah melihat akan ada kemungkinan memproduksi N219 sejumlah 20 unit," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk pendanaan belum tahu, tapi yang penting mereka bisa MoU dulu dan juga ada sinergi antara dua BUMN," ungkap Mustafa.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Merpati, Sardjono Jhony Tjitrokusumo sesuai dengan rencana perusahaan sampai 2020 di mana PMerpati berencana membeli 20 unit pesawat buatan PTDI.
"Jadi, di business plan kita sampai 2020 memang ada kebutuhan pesawat sebanyak 20 unit yang 20 seater (20 bangku). Nah, PTDI mampu produksi itu, mereka mampu memproduksi di 2014-2015," akunya.
Jhony kemudian melanjutkan, pendanaan untuk pembelian pesawat tersebut terpisah dari suntikan dana yang baru saja disetujui Komisi VI DPR.
"Jadi, nanti kita cari financing-nya bagimana, maka itu saya rasa kita mau sekali untuk menggunakan produk dalam negeri," tanggap Jhony.
Lalu, dirinya memperkirakan penyediaan 20 unit pesawat tersebut akan memakan waktu hingga 3 tahun dari 2015.
"Kira-kira 3 tahun sudah bisalah, jadi setahun ada 7 unit yang sudah jadi. Untuk perkiraan dana, kalau satu unitnya US$ 4 juta, maka kurang lebih akan dibutuhkan US$ 80 juta. Dana masih dicari, yang penting niatnya dulu," tukas Jhony.
(nrs/dnl)











































