Pemerintah Belum Khawatirkan Impor Buah

Pemerintah Belum Khawatirkan Impor Buah

- detikFinance
Minggu, 10 Jul 2011 16:55 WIB
Jakarta - Walaupun terjadi defisit disektor perdagangan buah pemerintah belum mengkhawatirkan impor buah ke RI.

Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi mengungkapkan meskipun Indonesia melakukan ekspor buah tetapi tidak sebesar kegiatan impornya.

"Ekspor kita masih defisit, kita ada juga ekspor ke Cina, Jepang, Amerika Serikat untuk buah-buah khas, seperti salak, manggis, untuk yang olahannya,nanas," ujarnya saat ditemui di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (10/7/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan untuk impor buah, Bayu mengakui cukup besar sekitar 5-10 persen dari kebutuhan masyarakat.

"Impor tidak lebih dari 5 persen, paling kalau dibilang terlalu biasa, kita kalikanlah 2, jadi 10 persen, cuma memang di pasar tampil di tempat strategis," ujarnya.

Namun meskipun demikian, Bayu mengaku tidak khawatir dengan impor buah. Pasalnya, masyarakat Indonesia memerlukan konsumsi buah setiap harinya. Padahal, buah Indonesia, lanjutnya, tergolong musiman atau ada juga yang tidak bisa diproduksi setiap hari karena alasan iklim.

"Buah itu kan ada 4, pertama buah yang dikonsumsi setiap hari karena alasan kesehatan. Kedua, buah untuk industri seperti industri selai dan jus, ketiga buah musiman, dan ketiga buah ekspor. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ini yang berat karena iklim kita kan hujan dan kering," jelasnya.

Selain itu, Bayu menilai impor buah dapat memberikan variasi dalam konsumsi buah masyarakat.

"Ya konsumen Indonesia kan butuh variasi, seperti pir, kiwi, itu kan gak bisa diproduksi di dalam negeri. Masa kita jadi tidak bisa makan buah-buah itu," jelasnya.

Namun, Bayu menyatakan pemerintah Indonesia tetap mengupayakan pemenuhan buah dari dalam negeri. Caranya dengan meniru Cina untuk membuat pembagian daerah penghasil buah yang memiliki perbedaan iklim.

"Kita harus terinspirasi dari cina, ada apel utara dan selatan. Ketika utara panen selatan enggak, atau sebaliknya, tapi jadi ada terus sepanjang tahun. Kita bisa bikin seperti itu, cari daerah yang musimnya berbeda," ujarnya.

Bayu menyebutkan untuk Indonesia daerah yang dimungkinkan untuk menerapkan sistem tanam seperti itu adalah Sulawesi Selatan dengan Sulawesi Tenggara.

"Sulawesi Selatan dan tenggara beda musim, itu sudah dicoba untuk beras," katanya.

Selain itu, perlunya kebun khusus yang menanam buah. Saat ini, kebun yang baru ada di Lampung untuk buah nanas.

"Kita itu tidak ada kebun buah, masih dijual per batang," pungkasnya.

(nia/dru)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads