Ketua Komisi Peternakan dan Kesehatan Hewan Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Soehadji mengatakan sebelum adanya larang impor kuda, Indonesia cukup banyak mengimpor kuda dari Australia. Selain itu beberapa negara yang menjadi sumber impor kuda pacu antara lain Argentina dan Jerman.
"Kita sudah menciptakan kuda pacu Indonesia, betinanya dari Sumba dan pejantannya asli dari Australia. Harganya Rp 100-200 juta, ini kuda pacu silangan. Kalau impor ada yang bisa lebih dari itu," katanya kepada detikFinance, Rabu (20/7/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan kebutuhan kuda dalam negeri lebih banyak untuk kebutuhan olahraga dan hobi, diantaranya untuk kuda pacu dan kuda tunggangan. Ia tak khawatir masalah wabah virus Hendra di Australia mengganggu suplai kuda.
Sementara itu Direktur Statistik Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan Badan Pusat Statistik (BPS) Nyoto Widodo mengatakan perkembangan jumlah populasi kuda di Indonesia tumbuh tak signifikan. Saat ini populasi kuda tidak mencapai 400.000 ekor lebih.
"Populasi tahun 2008 sekitar 392 ribu ekor dan tahun 2009 sekitar 398 ribu ekor," kata Nyoto.
Sebelumnya pemerintah Malaysia juga telah melarang proses importasi kuda dari Australia, hal serupa pun dilakukan oleh Indonesia untuk mengantisipasi menyebarnya virus Hendra ke luar Australia. Beberapa kasus, virus Hendra bisa menular dari kuda ke manusia.
Virus Hendra yang merupakan anggota dari keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus yang memiliki anggota virus Hendra serta virus Nipah. Virus ini berasal dari kelelawar.
Virus ini pertama kali diisolasi pada September 1994 dari spesimen kuda dan manusia di Hendra, pinggiran Brisbane Australia. Sedangkan virus Nipah ditemukan di Malaysia tahun 1999 yang menyebabkan penyakit pada lebih dari 100 orang.
(hen/dnl)











































