Kerugian Bencana Alam Setahun Setara Krisis Ekonomi Era 90-an

Kerugian Bencana Alam Setahun Setara Krisis Ekonomi Era 90-an

- detikFinance
Jumat, 05 Agu 2011 10:33 WIB
Kerugian Bencana Alam Setahun Setara Krisis Ekonomi Era 90-an
Jakarta - Risiko bencana alam membawa pengaruh negatif terhadap pembangunan terutama sektor ekonomi. Imbas bencana alam selama setahun setara imbas krisis ekonomi dan keuangan di era 1990-an di seluruh dunia.

Menurut Global Assessment Report (GAR 2011) memperkirakan kerugian akibat bencana setiap tahunnya mencapai 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Angka ini setara dengan kerugian yang dialami oleh negara-negara yang mengalami krisis keuangan global pada tahun 1980 dan 1990-an.

"Bagi Indonesia hal tersebut sangat terasa dari dampak bencana. Besarnya kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana sangat besar," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho saat berbincang dengan detikFinance, Jumat, (5/8/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut Sutopo menjelaskan, Tsunami Aceh (2004) menimbulkan kerusakan dan kerugian Rp 39 triliun. Berturut-turut gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menimbulkan kerugian Rp 27 triliun, banjir Jakarta tahun 2007 menyebabkan kerugian Rp 4,8 triliun, gempa bumi Sumbar tahun 2009 sebesar Rp 21,6 triliun, dan erupsi Merapi tahun 2010 di luar dari dampak lahar dingin sebesar Rp 3,56 triliun.

"Bandingkan dengan kebutuhan untuk membangun Jembatan Suramadu sekitar Rp 4,5 trilyun dan kebutuhan JORR Tahap II sepanjang 122,6 km sebanyak Rp 5 triliun. Artinya dampak bencana tersebut menurunkan laju pembangunan," kata Sutopo.

Data diatas diperkuat dari laporan Asia Pacific Disaster Report 2010 yang disusun oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik (UN-ESCAP) dan UN-ISDR. Laporan ini menyebutkan kawasan Asia-Pasifik menghasilkan seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.

"Namun, dalam 30 tahun terakhir ini 85% dari kematian dan 38% kerugian ekonomi global yang diakibatkan oleh bencana alam juga terjadi di kawasan ini," ungkapnya.

Namun, dampak fiskal bencana secara nasional memang tergolong kecil. Contohnya tsunami Aceh 2004 hanya 0,3% dari produk domestik regional bruto (PDRB) Indonesia. Namun persentase tersebut sangat kecil di tingkat daerah yaitu mencapai 45% dari produk domestik regional bruto (PDRB). Begitu pula gempa bumi Yogyakarta mencapai 41% dan gempa bumi Sumatera Barat sebesar 30% dari PDRB.

"Bencana alam membutuhkan pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan ekonomi kembali normal. Tetapi, semua ini memiliki konsekuensi pembiayaan yang sering melebihi kemampuan ekonomi daerah yang terlanda bencana," ujar Sutopo.

(asp/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads