Menurut Global Assessment Report (GAR 2011) memperkirakan kerugian akibat bencana setiap tahunnya mencapai 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Angka ini setara dengan kerugian yang dialami oleh negara-negara yang mengalami krisis keuangan global pada tahun 1980 dan 1990-an.
"Bagi Indonesia hal tersebut sangat terasa dari dampak bencana. Besarnya kerusakan dan kerugian akibat dampak bencana sangat besar," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho saat berbincang dengan detikFinance, Jumat, (5/8/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bandingkan dengan kebutuhan untuk membangun Jembatan Suramadu sekitar Rp 4,5 trilyun dan kebutuhan JORR Tahap II sepanjang 122,6 km sebanyak Rp 5 triliun. Artinya dampak bencana tersebut menurunkan laju pembangunan," kata Sutopo.
Data diatas diperkuat dari laporan Asia Pacific Disaster Report 2010 yang disusun oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik (UN-ESCAP) dan UN-ISDR. Laporan ini menyebutkan kawasan Asia-Pasifik menghasilkan seperempat dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
"Namun, dalam 30 tahun terakhir ini 85% dari kematian dan 38% kerugian ekonomi global yang diakibatkan oleh bencana alam juga terjadi di kawasan ini," ungkapnya.
Namun, dampak fiskal bencana secara nasional memang tergolong kecil. Contohnya tsunami Aceh 2004 hanya 0,3% dari produk domestik regional bruto (PDRB) Indonesia. Namun persentase tersebut sangat kecil di tingkat daerah yaitu mencapai 45% dari produk domestik regional bruto (PDRB). Begitu pula gempa bumi Yogyakarta mencapai 41% dan gempa bumi Sumatera Barat sebesar 30% dari PDRB.
"Bencana alam membutuhkan pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi agar kehidupan ekonomi kembali normal. Tetapi, semua ini memiliki konsekuensi pembiayaan yang sering melebihi kemampuan ekonomi daerah yang terlanda bencana," ujar Sutopo.
(asp/hen)










































