Demikian hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepada detikFinance, Sabtu (6/8/2011).
" Jangka pendek, menurut saya belum ada dampak yang signifikan. Biasanya kalau rating turun, yield dari bond suatu negara naik. Ini nampaknya tidak terjadi di AS," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang perlu diwaspadai adalah karena negatif outlook, berati ada kemungkinan penurunan rating lebih lanjut," ujarnya.
Seperti diketahui, Lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor's (S&P) menurunkan peringkat utang luar negeri Amerika Serikat (AS) menjadi AA+ dari sebelumnya AAA. S&P juga menegaskan A-1+ untuk rating jangka pendeknya.
Peringkat AS tersebut diturunkan karena situasi politik yang tak menentu, beban AS terhadap utang-utangnya yang meningkat serta outlook yang negatif.
S&P memberi prospek pada peringkat utang jangka panjang AS negatif. S&P juga bisa menurunkan peringkat jangka panjang untuk AA tadi dalam dua tahun ke depan jika ada pengeluaran yang lebih tinggi daripada yang disepakati sebelumnya.
(ang/nrs)











































