Menurut Benny Kusbini, praktisi pertanian yang kini Ketua Dewan Kedelai, memang agak aneh jika Indonesia mengimpor tepung tapioka apalagi gaplek singkong yang relatif banyak di Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), meski relatif kecil, Indonesia masih mengimpor ubi kayu dengan total 4,73 ton dengan nilai US$ 21,9 ribu dari Januari hingga Juni 2011. Negara Italia merupakan negara sumber impor ubi kayu dengan nilai terbesar yaitu US$ 20,64 ribu dengan berat 1,78 ton. Sedangkan Cina merupakan negara penyuplai ubi kayu terbesar di dunia hanya berkontribusi yaitu 2,96 ton dengan nilai US$ 1.273
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan selain dari China atau bahkan dari Italia, Indonesia juga pernah mengimpor tepung tapioka dari Thailand dan Vietnam. Benny pun tidak tahu persis mengapa angka impor tepung tapioka atau ubi kayu setiap tahun selalu saja terjadi.
Dihubungi terpisah Ketua Asosiasi Eksportir dan importir Sayur Kafi Kurnia mengatakan tidak mungkin Indonesia mengimpor ubi kayu dalam bentuk gelondongan atau chips singkong. Selama ini justru impor paling banyak untuk jenis tepung tapioka.
"Kemungkinan ada impor, tapi tidak dalam bentuk fresh (singkong)," kata Kafi.
Kafi mengakui kebanyakan impor tepung tapioka ke dalam negeri dipakai untuk keperluan industri terutama produsen mie instan. Hal ini lah menurutnya yang menyebabkan harga mie instan selalu stabil di dalam negeri meski harga gandum (terigu) selalu fluktuatif.
"Jadi kalau mau murah bikin mie dicampur dengan tepung singkong. Ini juga digunakan untuk biskuit, roti, mie, kue dan lain-lain," katanya.
Ia menjelaskan tepung-tepung tapioka yang diimpor umumnya merupakan produk yang sudah melalui proses teknologi tinggi. Umumnya paling banyak diimpor oleh industri makanan seperti pabrik mie instan.
"Jadi mie instan itu tak 100% terigu," pungkasnya.
(hen/qom)











































