Demikian disampaikan VP Corporate Communication Pertamina, Mochammad Harun ketika dihubungi wartawan, Jakarta, Kamis (11/8/2011).
"Kita bisa meraih untung karena bisnis upstream (hilir) kita sedang bagus yang mencakup aviasi, BBM Non-subsidi, dan juga efisiensi bisnis hulu yang bisa ditekan ditambah dengan keuntungan di delta dan selisih harga minyak mentah dan produksi. Oleh karena itu untung semester I 2011 Pertamina mencapai Rp 14,7 triliun," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi kita harus waspada pada semeser II 2011. Karena ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi keuntungan Pertamina," lanjut Harun.
Dikatakan Harun, faktor-faktor yang perlu diwaspadai adalah faktor terhadap delta harga BBM, perubahan harga minyak yang menurun, dan juga kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika yang kemungkinan berubah tiap waktu.
"Ini merupakan faktor eksternal yang tidak bisa diperkirakan Pertamina. Tapi, semoga saja di semester II 2011, target bisa dilampaui sampai Rp 17 triliun, semoga aja," harapnya.
Selain itu, ditambahnya volume BBM bersubsidi dari 38,5 juta KL menjadi 40,4 juta KL juga mempengaruhi keuntungan Pertamina. Didukung juga dengan tidak disetujuinya penambahan alpha atas penjualan bagi Pertamina oleh Pemerintah dan DPR beberapa waktu lalu.
Seperti diketahui, Rabu lalu (11/8/2011), Kementerian Badan Usaha Milik Negara menyampaikan, laba bersih Pertamina di semester I mengalami peningkatan mencapai 70% menjadi Rp 14,7 triliun dibanding dengan tahun sebelumnya.
Dikatakan bahwa laba bersih secara signifikan tersebut diakibatkan karena adanya perubahan minyak dunia yang terus menunjukkan tren kenaikan sejak awal tahun lalu. Sehingga hal tersebut memberi pengaruh kepada harga minyak Indonesia (ICP/Indonesian Crude Price) dan berdampak pada keuntungan Pertamina dalam produksi maupun penjualan BBM-nya.
(nrs/qom)










































